Lombok Barat, GO NTB – Sambut peringatan Hari Santri ke‑12, pimpinan Pondok Pesantren Darul Hikmah NWDI Tanak Beak KH. Khalilurrahman M.Pd menyampaikan seruan kebangsaan kepada seluruh santri Indonesia, beliau menekankan pentingnya reformasi internal dan eksternal pesantren, serta mengajak umat Islam untuk menegakkan tiga semangat utama: yakin, ikhlas, dan istiqomah.
KH. Khalilurrahman mengakui bahwa akhir‑akhir ini “pondok pesantren menjadi sorotan, mendapatkan perhatian yang agak negatif dari masyarakat.” Ia menegaskan bahwa hal tersebut menjadi peringatan bagi semua lembaga pendidikan Islam untuk melakukan pembenahan—baik dari sisi kurikulum, tata kelola, maupun pemanfaatan teknologi modern.
“Setiap pesantren memang perlu melakukan pembenahan‑pembenahan baik secara internal maupun eksternal,” ujarnya.
Hampir seluruh pahlawan nasional pernah “merasakan hidup di pesantren,” baik secara langsung maupun lewat bimbingan kiai. KH. Khalilurrahman menekankan bahwa pesantren adalah sumber inspirasi bagi perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa.
“Entah mereka mondok, entah mereka berguru kepada Kiai‑Kiai, semangat santri tetap mengalir dalam darah bangsa,” tegasnya.
Sebagai bagian dari Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh Hadratus Sheikh Ghai Haji Hasim Asyari, pesantren tahun ini fokus pada aksi‑aksi sosial. Menurut pimpinan pesantren, kegiatan tersebut diarahkan kepada korban bencana alam, kebakaran hutan, dan krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada 2022‑2026.
“Kita akan menggalang korban musibah, membantu mereka yang terdampak kebakaran hutan, bencana alam, dan masalah ekonomi,” kata TGH. Khalilurrahman.
Dia menambahkan bahwa kerjasama lintas pesantren sangat penting untuk “menyatu bersama negara dalam menyelesaikan urusan‑urusan kebangsaan.”
Dalam rangka menyoroti kontribusi Nusa Tenggara Barat (NTB) terhadap dunia pesantren, KH. Khalilurrahman mengangkat sosok Kiai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid, pendiri Pondok Pesantren Darun Nahdatain di Pancor, Lombok Timur, yang baru saja ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
“Beliau adalah kebanggaan kita semua, kebanggaan masyarakat ETB secara umum, dan khususnya pesantren kita,” ucapnya.
Pesan yang terus di amalkan dari TGH. Zainuddin Abdul Majid dikenal dengan tiga prinsip yang kini dijadikan pedoman semangat bagi para santri:
Yakin – keyakinan bahwa setiap langkah dalam pendidikan dan pengabdian berada dalam koridor syariat dan ketetapan negara.
Ikhlas – melaksanakan tugas tanpa pamrih, menjadikan “pamrih” hanya sebagai bonus bila muncul.
Istiqomah – konsistensi dalam mengikuti aturan, tetap pada jalur yang telah ditetapkan.
TGH. Khalilurrahman mengatakan pesantren harus beradaptasi dengan era digital. Ia menyuarakan keprihatinan bahwa banyak institusi agama yang “terlalu terisolasi dari dunia internet, AI, dan teknologi informasi.”
“Agar tidak dianggap ketinggalan zaman, pesantren harus menguasai teknologi, memahami AI, dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman,” tegasnya.
Peringatan Hari Santri ke‑12 sebagai momentum, KH. Khalilurrahman M.Pd menegaskan komitmen pesantren untuk menjadi kekuatan moral, sosial, dan teknologi yang selaras dengan visi Indonesia maju. “Mari kita hidupkan tiga semangat itu, dan jadikan pesantren tidak hanya sebagai lembaga keagamaan, tetapi juga agen perubahan bagi bangsa,” tuturnya.














