Seniman NTB Dorong Ruang Ekspresi dan Apresiasi yang Lebih Luas

Senin, 10 November 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Lalu Martadinata, budayawan dan pendiri komunitas Embun Jiwa dan Nur Kholis, Peneliti Musik Tradisional dan Musisi di studio Podcast Bintang, kantor Dinas Kominfotik Jalan Udayana Mataram, Jumat, (7/11/2025). Foto (Pemprov NTB)

Lalu Martadinata, budayawan dan pendiri komunitas Embun Jiwa dan Nur Kholis, Peneliti Musik Tradisional dan Musisi di studio Podcast Bintang, kantor Dinas Kominfotik Jalan Udayana Mataram, Jumat, (7/11/2025). Foto (Pemprov NTB)

GONTB – Lalu Martadinata, budayawan dan pendiri komunitas Embun Jiwa dan Nur Kholis, Peneliti Musik Tradisional dan Musisi mendorong ruang ekspresi dan apresiasi yang lebih luas dalam perbincangan tentang peran seni dan seniman serta pandangan mendalam tentang kesenian dan kesadaran spiritual di tengah kehidupan masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) saat ini.

Hal tersebut dikatakannya saat menjadi narasumber di studio Podcast Bintang, kantor Dinas Kominfotik Jalan Udayana Mataram, Jumat, (7/11/2025)

Ia juga menyoal kesenian rakyat Kecimol yang kini sedang menjadi isu menarik di masyarakat.

Lalu Martadinata menekankan bahwa seni merupakan bagian tak terpisahkan dari kebudayaan dan kehidupan spiritual manusia.

“Kesenian NTB saat ini sudah tumbuh dan perlu terus kita dukung. Apresiasi terhadap seniman tidak hanya berbentuk materi, tapi juga berupa ruang, waktu, dan kesempatan untuk menunjukkan karya mereka,” ujarnya.

Baca Juga:  LAKPESDAM PC Lobar sebagai Motor Penggerak Pemberdayaan

Dirinya berharap Dinas yang berkaitan dengan kebudayaan dan instansi terkait dapat lebih terbuka kepada seluruh pelaku seni dan budaya.

“Komunikasi jangan hanya dengan satu atau dua seniman saja, tapi dengan semua pelaku seni agar kesenian di NTB semakin masif dan berkembang. Pemerintah perlu hadir, berpihak, dan membuka ruang bagi seniman untuk mengekspresikan diri,” tambahnya.

Menurut Lalu Martadinata, seni memiliki kekuatan untuk memicu kebahagiaan dan keseimbangan batin. Ia mengingatkan bahwa pembangunan fisik seharusnya berjalan beriringan dengan pembangunan rasa dan spiritualitas masyarakat.

“Harus ada keseimbangan antara pembangunan fisik dan mental. Pemerintah sudah memberi ruang, tapi masih perlu diperluas lagi agar lebih banyak pelaku budaya bisa berkarya,” pesannya.

Baca Juga:  Wisuda Institut Elkatarie, Gubernur NTB Tekankan diferensiasi dan Social Skill di Era AI

Dirinya juga mengingatkan pentingnya kesadaran spiritual dalam berkesenian.

“Buka diri, kenali diri, dan jadilah pengasih serta penyayang bagi semesta,” tuturnya menutup pandangan dengan nada reflektif.

Sementara itu, Nur Kholis menyoroti kondisi kesejahteraan seniman yang masih sering terabaikan.

“Di NTB, terkadang yang lebih dihargai bukan senimannya, tapi alat pendukungnya. Sewa terop bisa lebih mahal, sementara senimannya sendiri belum tentu mendapat apresiasi setimpal,” ungkapnya.

Menurutnya, hal ini menunjukkan masih rendahnya penghargaan terhadap subjek dibanding objek dalam kegiatan seni.

“Objek itu tidak akan bernilai tanpa subjek. Senimanlah yang membuat panggung menjadi hidup, bukan sebaliknya,” tegasnya.

Dalam pandangan Nur Kholis, kesenian tradisional seperti Kecimol juga mengalami pergeseran bentuk dan makna namun bukan dihilangkan melainkan dibina dan diarahkan dengan menegaskan bahwa kesenian Kecimol telah menjadi sumber ekonomi bagi banyak pelaku seni di NTB.

Baca Juga:  Liga Yantek PLN NTB Wujudkan Listrik Andal di Seluruh NTB

“Awalnya, alat-alat musik Kecimol menggunakan instrumen khas Sasak seperti alat petik, tapi kini sudah banyak dikreasikan dengan alat modern seperti gitar dan piano. Sayangnya, ada penyimpangan di beberapa pertunjukan yang melanggar norma. Namun bukan berarti dibinasakan justru dibina dan diarahkan,” jelasnya.

Kedua narasumber sepakat bahwa seni memiliki kekuatan besar untuk membangkitkan kesadaran dan menyatukan masyarakat.

“Jangan pernah meremehkan kekuatan seni, dan percayalah bahwa generasi NTB penuh dengan orang-orang kreatif. Kita hanya perlu menyentuh dan memberi kesempatan,” tutup Nur Kholis.

Sebagai penutup, para seniman yang hadir menampilkan musikalisasi puisi bertemakan “Berbagi Cerita, Berbagi Cahaya”, menggambarkan semangat berkarya, berbagi inspirasi, dan menjaga harmoni antara seni dan spiritualitas. ***

Sumber Berita: Pemprov NTB

Berita Terkait

Saiful Anshori Usung Program “Satu Data Warga” Bantu Bantuan Lebih Tepat Sasaran
Rangga Berharap Mohan Bawa NTB Tembus Lima Besar PON
PLN UP3 Selaparang Siagakan SPKLU Fast Charging di MotoGP 2026, ini Lokasinya
“Teberiuk” untuk Montong Are, Heri Iskan Daftar Calon Kades
Maju Lagi, H. Khotamallah Fokus Peningkatan Ekonomi Masyarakat Telagawaru
Daftar Hari Terakhir, Rusman Hadi Bawa Visi “RUKUN” Maju Pilkades Bukit Tinggi
Bantu Mustahik Mandiri, BAZNAS Lobar Sebar Puluhan Gerobak dan Modal Usaha Produktif
Pengelolaan Dana Desa Terbuka, Atasi Air Bersih Hingga Drainase Jadi Program Prioritas Muhammad Sa’i 

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 10:20

Saiful Anshori Usung Program “Satu Data Warga” Bantu Bantuan Lebih Tepat Sasaran

Selasa, 13 Oktober 2026 - 23:00

Rangga Berharap Mohan Bawa NTB Tembus Lima Besar PON

Minggu, 11 Oktober 2026 - 11:56

PLN UP3 Selaparang Siagakan SPKLU Fast Charging di MotoGP 2026, ini Lokasinya

Rabu, 7 Oktober 2026 - 21:44

“Teberiuk” untuk Montong Are, Heri Iskan Daftar Calon Kades

Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:22

Maju Lagi, H. Khotamallah Fokus Peningkatan Ekonomi Masyarakat Telagawaru

Berita Terbaru

Go Peristiwa

Seorang Kakek ditemukan Meninggal di Kontrakan

Sabtu, 17 Okt 2026 - 11:45