Lombok Barat, GONTB – Memperingati Hari Amal Bhakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Lombok Barat, H. Hariadi Iskandar, menggelar serangkaian kegiatan. Salah satu yang paling meriah adalah jalan sehat bersama seluruh santri pondok pesantren se–Lombok Barat dan jajaran Kepala Urusan Agama (KUA) dari setiap kecamatan.
“Melalui jalan sehat ini, kami ingin mempererat silaturahmi antara Kemenag, pesantren, dan masyarakat luas. Selain sebagai sarana hidup sehat, momen ini juga kami jadikan ajang sosialisasi berbagai program Kemenag yang berdampak langsung ke masyarakat,” ujar Hariadi usai memberi sambutan di titik start kegiatan, Rabu 24 Desember 2025.
Selain jalan sehat, Kemenag Lombok Barat turut meluncurkan sejumlah program prioritas. Salah satunya adalah penekanan terhadap pernikahan usia dini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Lombok Barat, angka pernikahan di bawah umur selama ini masih di atas rata-rata provinsi Nusa Tenggara Barat.
“Kita patut bersyukur, beberapa tahun terakhir angka pernikahan dini mulai menurun. Namun kenyataannya, stunting pada anak yang lahir dari pernikahan di bawah usia masih tinggi,” ungkap Hariadi.
Untuk menekan angka tersebut, Kemenag Lombok Barat berkoordinasi intensif dengan Pemerintah daerah (DP2KBC), Pengadilan Agama, dan Seluruh penyuluh dan narator KUA kecamatan.
“Setiap pernikahan di bawah 19 tahun wajib mendapat rekomendasi dari Pengadilan Agama. Kami berharap, pengadilan tidak terlalu cepat menerbitkan rekomendasi tanpa pertimbangan matang. Ini bagian dari upaya bersama menunda pernikahan pada usia rentan,” tambahnya.
Langkah lain yang tengah disiapkan adalah memasukkan materi pendidikan pernikahan dalam kurikulum pondok pesantren. Sebagai program awal, Kemenag Lombok Barat memprakarsai “BRUSH Program” – sebuah inisiatif turun langsung ke sekolah menengah atas (SMA/SMK) di seluruh kecamatan.
Tim penyuluh agama memberikan materi tentang konsep keluarga sehat, persiapan menikah, dan implikasi pernikahan dini bagi kesehatan fisik dan mental.
“Anak-anak diberikan ruang dialog terbuka agar mereka paham bahwa menikah bukan sekadar tradisi, melainkan tanggung jawab besar yang harus dipersiapkan dengan matang,” tutur Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kemenag Lombok Barat, Ahmad Fikri, yang juga terlibat dalam BRUSH Program.
Berbagai rangkaian kegiatan HAB ke-80 ini, Kemenag Lombok Barat bertekad semakin mendekatkan diri pada masyarakat, sekaligus menurunkan angka pernikahan dini dan dampak stunting di wilayahnya.
“Semoga sinergi kami dengan pesantren, pemerintah daerah, dan lembaga peradilan agama membawa perubahan positif bagi generasi mendatang,” tutup Hariadi. ***
Penulis : Ramli Ahmad
Editor : Dedi Suhadi
Sumber Berita: Liputan GONTB














