“Barangsiapa yang termasuk ahli sedekah, niscaya ia dipanggil (masuk surga) dari pintu sedekah.” (HR. Al-Bukhari).
GONTB – Sedekah adalah amaliyah yang menumbuhkan pahala berlimpah. Dan, tak hanya orang kaya saja yang berkesempatan ‘mencicipi’ keagungan sedekah. Orang miskin pun bisa memborong pahala sedekah. Kaya tak mesti mulia, dan miskin tak selamanya hina.
Semua orang berhak untuk bersedekah. Amaliyah sedekah tidak membedakan antara orang kaya dan miskin. Semuanya berkesempatan mendapatkan kemuliaan di balik sedekah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Oleh karenanya, hendaklah setiap jiwa tergerak hatinya untuk saling berlomba-lomba dalam kebaikan dan ketakwaan. Memanfaatkan sebaik mungkin kesempatan yang diberikan Allah untuk mendapatkan pahala melimpah dibalik amaliyah penuh berkah ini.
Ada keistimewaan di balik sedekah yang diulurkan oleh tangan-tangan yang tengah menghadapi himpitan kemiskinan. Abu Hurairah r.a. pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama ?”
Beliau menjawab, “Usaha seseorang yang memiliki sedikit harta. Mulailah dari orang-orang yang menjadi tanggung jawabmu.” (HR. Ahmah, Abu Dawud).
Sedekah dalam kondisi terhimpit pun memiliki kedahsyatan tersendiri. Salah satunya, mampu menghidarkan diri dari kobaran api neraka.
Dorongan untuk menghidarkan diri kobaran api neraka ini telah disampaikan Rasulullah Saw meski hanya secuil harta. Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang mampu menghindar dari neraka meski hanya dengan separuh buah kurma, maka hendaklah ia melakukannya.” (HR. Muslim).
Berlomba untuk meraih pahala berlimpah merupakan salah satu ciri khas kehidupan para sahabat. Abu Dzar Al-Ghifari r.a. pernah meriwayatkan bahwa ada beberapa orang dari sahabat Rasulullah Saw berkata kepada beliau.
“Ya Rasulullah, orang-orang kaya pergi memborong pahala yang banyak. Mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami mengerjakannya dan juga berpuasa sebagaimana kami berpuasa, namun mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka,” (HR. Muslim).
Itulah sebuah potret kehidupan orang yang merindukan kebajikan, meski kehidupan susah tengah menerpa mereka. Kesusahan hidup tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk bersaing dengan orang lain guna meraup pahala berlimpah.
Sebuah tradisi yang mungkin sedikit pudar pada masa sekarang. Banyak orang memandang bahwa kemuliaan itu hanya dimiliki oleh orang-orang yang berharta.
Banyak orang mengira bahwa pahala sedekah hanya milik orang-orang berduit atau yang memiliki harta berlimpah. Menurut mereka, ungkapan sedekah hanya mereka yang berdompet tebal.
Sebuah realita bahwa sedekah bukan hanya hak paten bagi orang-orang kaya saja. Orang miskin pun berhak untuk sedekah, meski dengan secuil harta. Bahkan secara syar’i, sedekah orang miskin seperti ini memiliki kedahsyatan tersendiri.
Seandainya ia tidak mampu bersedekah dengan harta, maka syari’at telah memberikan jalan alternatif untuk meraih pahala sedekah tersebut, yang kadang kita menganggapnya sesuatu yang remeh.
Dengan istilah, ‘Sedekah Orang Miskin’ penulis bukan bermaksud mengkhususkan bagi mereka yang tengah dilanda kemiskinan. Artinya bagi siapa saja yang yakin akan janji Allah, maka tulisan ini menjadi suntikan motivasi baginya untuk membiasakan hidup gemar bersedekah.
Yakinlah, dalam kondisi apa pun, seorang mukmin akan mampu menanamkan kebajikan yang akan ia panen hari esok. Oleh karena itu, meski pun kita susah tetaplah bersedekah. Itulah slogan setiap nuslim yang harus kita pegang erat, guna meraih ridha Allah Swt.
Sedekah dalam keadaan sempit atau sulit bukanlah hal yang mudah, hanya bagi orang-orang yang bertakwalah yang mampu melakukan hal tersebut.
Allah berfirman: “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Ali-Imran: 134).
Selamat membaca dan merasakan kedahsyatan sedekah. Wallahu a’lam bish showab.
Referensi: Abu Huzaifah Ath-Thalibi, Dahsyatnya Sedekah Orang Miskin, 2010.
Penulis : Aswan Nasution
Editor : Dedi Suhadi
Sumber Berita: Aswan Nasution














