Isra’ Mi’raj: Tamsilan Perjalanan Hidup di Masa Kini

"Agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami ... (QS. Al-Isra': 1).

Kamis, 15 Januari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Penggagas berdirinya Organisasi Islam Terbesar ke 3 Indonesia wilayah NTB Ust. H. Aswan nasution.

Penggagas berdirinya Organisasi Islam Terbesar ke 3 Indonesia wilayah NTB Ust. H. Aswan nasution.

GONTB – Al-Qur’an memang bukan kitab sejarah tetapi Al-Qur’an banyak menceritakan peristiwa sejarah. Dalam konteks itulah Isra’ Mi’raj yang merupakan peristiwa masa lampau tetap relevan untuk kita jadikan acuan hidup di masa kini.

Hakikat dan tujuan Isra’ Mi’raj hanya Allah  swt yang tahu, tetapi di penghujung ayat itu kita menjumpai kalimat, “Agar Kami perlihatkan kepadanya dari tanda-tanda (kebesaran) Kami …. ” (QS. Al-Isra’: 1).

Seluruh pemandangan dan peristiwa yang dilihat dan dijumpai Nabi Muhammad SAW sepanjang perjalanan merupakan sebagian kecil tanda-tanda kebesaran Allah SWT, dan itu merupakan tamsil, contoh dari perjalanan bagi kita yang hidup di zaman ini.

Misalnya ketika Nabi Muhammad SAW melihat orang yang mencakar-cakar mukanya dengan kukunya sendiri, beliau bertanya: Ya Jibril, itu orang macam apa? Jibril yang pada perjalanan Isra’ Mi’raj bertugas sebagai pendamping menjelaskan. Muhammad, itu contoh dari umatmu yang suka menjelek-jelekkan saudaranya sendiri.

Sesama muslim adalah bersaudara seperti satu tubuh. Jika yang satu sakit yang lain ikut merasa sakit. Sehingga logis jika seorang muslim yang suka menjelek-jelekkan saudaranya digambarkan seperti orang yang mencakar-cakar mukanya sendiri. Seperti kata pepatah. “Menepuk air didulang, terpecik ke muka sendiri.”

Lalu Nabi Muhammad SAW melihat orang yang dipotong lidahnya. Kata malaikat Jibril: Ya Muhammad itu tamsil dari umatmu yang suka membuat fitnah, tukang bikin gosip dan lain semacamnya.

Baca Juga:  Telkomsel ORBIT Sukseskan Streaming Video Safari Dakwah KH Fikri Haikal Zainuddin MZ di Lombok

Kemudian beliau menjumpai orang memikul kayu. Bebannya tampak sudah berat, akan tetapi, beban yang sudah membuat jalannya terseok-seok itu makin ditambah, makin berat makin ditambah, begitu seterusnya.

Sehingga Nabi Muhammad SAW merasa heran dan bertanya: Jibril apalagi ini? Jawab malaikat Jibril, ya Muhammad itulah gambaran umatmu yang dipercaya untuk memikul amanat, tetapi sebelum amanat itu diselesaikan dia sudah menerima amanat yang lain.

Akhirnya bertumpuk-tumpuk di pundaknya. Dia diberi jabatan dan tak mampu menunaikan, namun ketika dikasih lagi ia mau, diberi lagi dia terima dan seterusnya. Demikian banyak jabatan yang dirangkap, tapi tak satupun yang berhasil tuntas dilaksanakan.

Di tempat lain Nabi Muhammad SAW menyaksikan sekelompok orang yang bercocok tanam. Anehnya, saat itu menanam pohon itu berbuah. Tiap kali dipetik seketika keluar lagi buahnya. Kata malaikat Jibril: Wahai Muhammad, itulah sebuah potret umatmu yang dengan gemar memberikan bantuan kepada orang yang memang memerlukannya.

Mereka rajin bersedekah, berbagi dan memberi fakir miskin, menyantuni anak yatim piatu, memberikan bantuan kepada pembangunan masjid, menyelenggarakan pendidikan, dakwah dan sebagainya.

Baca Juga:  Apakah Isra Miraj 2025 Tanggal Merah? Cek Info Libur Nasional dan Cuti Bersama

Jadi orang yang rajin berbagi dan membelanjakan hartanya dijalan Allah itu ibarat orang yang sekali menanam dan terus-menerus memanen buahnya. Sehingga milik kita yang sebenarnya bukanlah apa yang ada pada kita sekarang ini. Harta kita yang sesungguhnya adalah harta yang sudah kita belanjakan di jalan Allah SWT.

Dan masih banyak lagi peristiwa-peristiwa yang disaksikan Nabi Muhammad SAW. sebagai pelajaran dan tamsilan bagi kita umatnya sekaligus merupakan sebagian kecil dari tanda- tanda dari kebesaran Allah SWT diperlihatkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Di samping itu, dalam peristiwa Isra’ Mi’raj ini Nabi Muhammad SAW menerima perintah shalat. Inilah salah satu keistimewaan shalat. Ketika Allah SWT memerintahkan puasa cukup dengan  menurunkan ayat-Nya.

Saat memerintahkan orang yang mampu untuk melaksanakan haji cukup dengan firman-Nya. Waktu Allah SWT mewajibkan kita membayar zakat juga sekedar menurunkan wahyu-Nya. Sedangkan untuk perintah shalat Nabi Muhammad SAW langsung dipanggil Allah SWT.

Adapun ajaran shalat yang harus kita terjemahkan dalam kehidupan, antara lain sebagai berikut:

Pertama: Tawadhu atau rendah hati

Anggota badan yang paling kita hormati adalah kepala. Namun kepala yang kita hormati itu, manakala bersujud di hadapan Allah SWT, sama dengan telapak kaki kita. Sikap tawadhu itu kita wujudkan dan sikap sombong kita buang jauh-jauh. Inilah maksud dari mendirikan shalat.

Baca Juga:  Isra' Mi'raj: Gubernur Iqbal: Mari Jaga Alam dan Solidaritas Sosial di NTB

Kedua: Ikhlas atau berbuat tanpa pamrih

Sebagaimana ketika shalat jika sudah Allahu Akbar, takbiratul Ikram, semua sudah karena Allah SWT. Orang mau memuji atau tidak, tak jadi soal, yang penting hanya Allah SWT. Begitu pula seharusnya dalam kancah kehidupan nyata.

Ketiga: Shalat itu memberikan ketenangan hidup

Manusia punya ambisi dan emosi. Jika orang lain memiliki sesuatu, kita ingin. Jika orang lain mampu kita juga berkehendak. Itu wajar manusia pasti punya ambisi. Tapi emosi dan ambisi yang membludak tanpa dinetralisir akan menimbulkan psikosomatis, dimana orang disiksa oleh perasaannya sendiri.

Ketenangan dalam hidup, kedamaian dalam rumah tangga, tumbuh dan terawat oleh shalat. Shalat membawa ketentraman dan kedamaian dalam kehidupan pribadi, rumah tangga, masyarakat bahkan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Inilah makna: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar.” (QS. Al-Ankabut: 45).

Dengan demikian shalat itu benar-benar merupakan keperluan kita, bukan untuk kepentingan Allah SWT. Wallahu a’lam bish showab.

Referensi: Drs. Cholil Uman, Petunjuk Menjadi Imam Shalat, 1996.

Penulis : Aswan Amir Hasan Nasution

Editor : Lalu Sahid Wiadi

Sumber Berita: Aswan Nasution

Berita Terkait

7 Keutamaan Hari Jumat Menurut Al-Qur’an dan Hadits
Kenapa Harus Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Mencintai Nabi Sepenuh Hati
Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan Indonesia Ditengah Hantaman Badai Korupsi
Nasehat Kematian
Makna Sebuah Do’a yang Mustajab
Hijrah dan Kebangkitan Ummat
Anggota DPR RI F-NasDem, Fauzan Khalid Berperan Besar Kembangkan Santri Penghafal Al-Qur’an
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 12:34

7 Keutamaan Hari Jumat Menurut Al-Qur’an dan Hadits

Minggu, 23 Agustus 2026 - 09:40

Kenapa Harus Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW

Minggu, 23 Agustus 2026 - 07:34

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Mencintai Nabi Sepenuh Hati

Jumat, 7 Agustus 2026 - 22:07

Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan Indonesia Ditengah Hantaman Badai Korupsi

Senin, 27 Juli 2026 - 17:58

Nasehat Kematian

Berita Terbaru

Go Religi

7 Keutamaan Hari Jumat Menurut Al-Qur’an dan Hadits

Jumat, 4 Sep 2026 - 12:34

Go Kesehatan

Inilah 5 Cara Mudah dan Ampuh Mengatasi Kulit Kusam

Jumat, 4 Sep 2026 - 09:13