GONTB – Dalam pengelolaannya, sampah yang masuk ke TPST, jelas Kades Ratmaji tidak semuanya diolah menjadi pupuk dan batako. Ada sebagian sampah organik yang dimanfaatkan untuk biogas. “Ada dua instalasi biogas di TPST,” katanya
Biasanya, kata Kades Ratmaji para pekerja di TPST memanfaatkan kompor biogas saat ingin menyeduh kopi dan keperluan lain yang menggunakan air mendidih
“Para pekerja di TPST tidak pelru lagi memikirkan beli gas untuk memasak air. Cukup manfaatkan biogas dari sampah,” katanya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Agar bisa mendapatkan manfaat dari sampah terutama biogas, jelas Kades Ratmaji sampah dimasukan dalam tabung (inlet) dengan ditekan dan menggunakan air. Ketika sudah masuk penampungan maka dibiarkan berproses hingga keluar gas. Gas ini kemudian disalurkan lewat instalasi ke kompor.
“Kalau ingin masak air atau lainnya, tinggal nyalakan kompornya,” katanya.
Warga lainnya, Yanti mengaku dengan memanfaatkan biogas dirinya mampu menekan biaya untuk pembelian gas melon.
“Sebelum menggunakan biogas, seminggu sekali beli gas. Tapi setelah pakai biogas, dua minggu sekali baru beli gas melon,’ katanya.
Meski sama-sama menggunakan biogas, namun sumber biogas yang digunakan berbeda.
“Sejak tiga tahun lalu, kami menggunakan kotoran sapi untuk biogas,” katanya.
Menurut Kepala Desa Semparu, Lalu Ratmaji Hijrat anggaran untuk membuat instalasi biogas baik yang ada di TPST maupun rumah warga, diambil dari dana desa. Sedang yang membuat instalasi kompor biogas pihak lain.
“Kami bekerja sama dengan Yayasan Rumah Energi (YRE) dalam membuat instalasi kompor biogas,” katanya.
Ratmaji mengaku, dipilihnya Yayasan Rumah Energi untuk membuat instalasi biogas karena pihaknya tidak memiliki keahlian di bidang tersebut
Penulis : Dedi Suhadi
Editor : Lalu Sahid Wiadi
Sumber Berita: Liputan GONTB














