GONTB – Mengenal, H. Abdul Mun’im Ritonga, SH, MH. Lahir di Kota Medan, tepatnya 12-12-1960, saat ini ia genap usianya 65 tahun, beralamat di Salemba Bluntas No.C 215 Jakarta Pusat, adalah merupakan seorang sosok yang menarik untuk dikenal dan diungkap, siapa dia?. Berikut ini penjelasannya :
H.Abdul Mun’in Ritonga dalah seorang diplomat senior yang mendunia dimana ia bertugas di beberapa negara yang berawalnya dari di KJRI Jedah, Sudan, India, Oman, Yaman, Lebanon dan terakhir sebagai diplomat di KJRI Frankfurt Jerman, dan di negara ini pulalah ia mengakhiri tugasnya sebagai diplomat senior (pensiun).
Dikalangan organisasi Islam Al-Washliyah pun, ia juga sangat populer dan dikenal sebagai kader Al Washliyah yang gigih dan tangguh dimana organisasi Al-Washliyah ini pulalah mendasari, membekali dan menempah dirinya dapat berhasil dan mengantarkannya kepuncak karier tertinggi sebagai diplomat senior, hal ini juga tidak terlepas dari buah hasil gemblengan dan pengkaderan Al- Washliyah itu sendiri, di masanya
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tidak hanya berhenti disitu, setelah ia memasuki masa pensiun sebagai diplomat, ia juga terus aktif, berkiprah sebagai penggerak dakwah yang tak pernah lelah terus berjuang menegakkan ketinggian dan kebesaran ajaran Islam, dimana pun ia berada baik dalam dan luar negeri, bahkan ia tidak sungkan berdakwah ke-pelosok-pelosok desa terjauh dan terpinggir sekali pun, seperti di Pulau Nias dan Tanah Karo, dan daerah lainnya.
H. Abdul Mu’in Ritonga, saat ini disibukkan dalam kegiatan dakwahnya melalui media AW SUMUT CHANEL, sebagai nara sumber kajian Dhuha yang bisa kita bersamai dan saksikan dalam tayangannya setiap hari Kamis pukul 10 Wib sampai selesai. Adapun tema-tema disajikan yang aktual, terkait dalam persoalan keumatan seperti pendidikan, dakwah, sosial, politik, ekonomi, hukum, budaya dan sebagainya.
Tidaklah berlebihan, jika menurut hemat penulis, bahwa ketika ia memberikan pemaparan ia menggunakan metode dakwahnya yang cukup menarik untuk disimak, ia memiliki khas tersendiri, diantara penyampaian bahasanya sedeharna, lugas, dan cepat dapat dicerna dari semua kalangan, santun, tidak menggurui, menyejukkan, mengutamakan menyuarakan persatuan dan kesatuan umat, jadi, ia mampu mempesona para pemirsa, (boleh jadi faktor keilmuan diplomatik yang dimilikinya). Namun ia tegas dalam prinsip terkait tentang akidah dan ibadah sesuai syari’at Islam.
Selain itu, dapat juga kita ketahui bahwa, Abdul Mun’im Ritonga, sebagai diplomat senior, mimster, PNS lV/D. (1986-2020) Pensiun. Juga aktif sebagai da’i, qari, sejak 1975, Vetaran RI, Stafsus DPP LVRI, Aktifis MUI, PB Al Washliyah, KAHMI, Aktif Wisata Dakwah (WI) dalam dan luar negeri.
Dengan menelusuri dari rekam jejak dan perjalanan panjang kariernya yang ia lewati dengan dedikasi tinggi, berintegritas memiliki kompetensi yang mumpuni ia wajar meraih penghargaan dari beberapa lembaga yang resmi diantaranya adalah, Pengabdian 10-20-30 Tahun PNS oleh Presiden RI, Santi Dharma, oleh Panglima TNI, Award Un Armed Forces From Unifel Comander, Bintang LVRI oleh Ketua Umum LVRI. Ikut serta jadi tentara PBB dalam pasukan perdamaian (2006-2007) di Lebanon Selatan.
Di akhir tulisan ini, Sang diplomat menukil pendapat bahwa menurut seorang ulama besar yang berpengaruh Mahmud Shalthout memberikan pesan kepada pembaca mengatakan bahwa, “Kehidupan seorang besar diukur dari kadar perjuangan dan pengorbanan dalam mencapai nilai-nilai tertinggi dan contoh utama di tengah-tengah masyarakat.”
Semoga bermanfaat, khususnya bagi generasi penerus, bersiaplah sebagai pelanjut dan harapan terus lahir lagi para kader dan tokoh yang lebih hebat dan sukses di dunia akhirat. Nashrum minallahi wafathun qarib wabasysyiri mu’munin. Hiduplah Al Washliyah dari Zaman Berzaman.
Penulis: Aswan Nasution, Penasehat PW Al Washliyah Nusa Tenggara Barat (NTB).
Penulis : Aswan Nasution
Editor : Lalu Sahid Wiadi
Sumber Berita: Aswan Nasution













