GONTB – Tokoh Besar, hampir selalu punya banyak predikat kebaikan. Misal, di diri Arsyad Thalib Lubis setidaknya melekat sejumlah sebutan ini; Ulama, muballigh, kristolog, jago debat, jurnalis, penulis, pejuang, politisi dan pendiri Al-Washliyah.
Sebagai ulama, ilmunya tak diragukan lagi. Terlihat, setidaknya, dari kajian keislamannya. Sebagai muballigh, kerja-kerja amar makruf dan nahi munkarnya kental terasa.
Sebagai kristolog dan cakap berdebat, pengalamannya menunjukkan bahwa dia sangat teruji. Sebagai jurnalis tulisannya tesebar di berbagai media. Sebagai penulis buku-buku karyanya ada puluhan judul.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai pejuang, masyarakat banyak bisa menjadi saksi yang jujur. Misal, dengan pikiran dan tulisan dia berjuang. Berjuang dengan raga juga dia lakukan.
Sebagian Jejak
Arsyad Thalib Lubis lahir pada Oktober 1908 di Langkat, Sumatera Utara. Dia tekun belajar, di masa 11917-1930. Dia belajar ke sejumlah ulama. Misal, kepada Syaikh Hasan Maksum (1881-1937) di Medan, dia belajar ilmu tafsir, hadits, usul fikih, dan fiqh.
Belakangan, Arsyad Thalib Lubis dikenal memiliki keahlian di bidang kristologi. Ilmu itu, juga dia dapatkan sang guru yaitu Sayikh Hasan Maksum yang Mufti Kerajaan Islam Deli saat itu.
Arsyad Thalib Lubis dikenal cerdas dan rajin. Di antara buahnya, pada usia 20 tahun dia telah menjadi penulis di Majalah Fajar Islam di Medan. Pada usia 26 tahun, buku pertamanya yaitu Rahasia Bible terbit pada 1934. Buku ini lalu menjadi pegangan muballigh dan dai Al-Washliyah dalam mensyiarkan Islam di Porsea, Tapanuli Utara.
Apa itu Al-Washliyah? Al-Jam’iyatul Washliyah adalah organisasi yang bergerak di bidang dakwah, pendidikan, dan sosial. Arsyad Thalib Lubis adalah salah seorang pendirinya.
Sejak berdirinya organisasi ini, yaitu pada 30 November 1930, Arsyad Thalib Lubis turut menjadi anggota Pengurus Besar Al- Washliyah sampai 1956. Di antara capaian kerja dakwahnya, puluhan ribu orang dari Tanah Batak dan Karo, Sumatera Utara, masuk Islam.
Bahkan, menjelang akhir hayatnya dia telah mengislamkan tidak kurang dari dua ratus orang di Kabupaten Deli Serdang (https://kabarwashliyah.com/2013/02/22/hm-arsyad-thalib-lubis/).
Arsyad Thalib Lubis, aktif mengajar pada beberapa Madrasah Al-Washliyah, baik yang berada di Medan maupun di Aceh. Itu, pada masa 1926-1957.

Di banyak “lapangan”
Di pergerakan kemerdekaan Indonesia, Arsyad Thalib Lubis aktif membangkitkan semangat jihad melawan penjajah. Dia menulis buku Tutunan Perang Sabil.
Terkait perjuangannya, pada 29 Maret 1949 pendiri Al-Washliyah ini ditangkap pihak Negara Sumatera Timur (NST). Pihak yang disebut terakhir, bertindak sebagai perpanjangan tangan Belanda.
Arsyad Thalib Lubis ditahan sebagai tawanan politik di penjara Sukamulia, Medan, Sumatera Utara. Kemerdekaan dirampas, 29 Maret sampai dengan 23 Desember 1949.
Di lapangan politik, Arsyad Thalib Lubis juga aktif. Dia pernah menjadi pengurus di Majelis Syuro Muslim Indonesia (Masyumi), Dia berulang-ulang menjadi pimpinan wilayah dan anggota Majelis Syuro Wilayah. Kemudian, dia menjadi anggota Msjelis Syuro Pusat (1953-1954). Dia anggota Konstituante dari fraksi Masyumi sejak 1956 sampai dibubarkan pada 1959.
Arsyad Thalib Lubis pernah pula menjadi birokrat. Sejak 1946 hingga 1957 dia memegang berbagai jabatan di Kementerian Agama, antara lain: Kepala Mahkamah Syariah Keresidenan Sumatera Timur, Kepala Jawatan Agama Keresidenan Sumatera Timur, Kepala Bahagian Kepenghuluan Kantor Urusan Agama Provinsi Sumatera Utara, dan Pejabat Kepala Kantor Urusan Agama Provinsi Sumatera Utara (https://ensiklopediaisla.id/arsyad-thalib-lubis/).
Dia mewakili ulama Al-Washliyah, pernah menjadi delegasi Indonesia berkunjung ke negeri Uni Soviet (Rusia sekarang). Saat itu, dia bersama beberapa ulama Indonesia lainnya.
Buku-Buku Itu
Kontribusi Arsyad Thalib Lubis sebagai umat Islam, cukup besar. Karya-karya tulis itu sebagian bsar merupakan respons atas perkembangan ilmu dan dinamika Islam saat itu.
Berikut ini adalah beberapa karya yang dimaksud; 1). Penuntun Perang Sabil. 2). Debat Islam-Kristen. 3). Agama Islam dan Penghuni Luar Angkasa. 4). Imam Mahdi. 5) Pemimpin Haji Mabrur. 6) Perbandingan Agama: Kristen dan Islam. 7). Ilmu Pembagian Pusaka-Al-Faraidl. 8). Keesan Tuhan Menurut Ajaran Kristen dan Islam .9). Pedoman Mati Menurut Al-Qur’an dan Hadits.10). Ilmu Fiqih.11). Fatwa: Beberapa Masalah dan lainnya.
Demikianlah, sebagian karya Arsyad Thalib Lubis sebagaimana yang ada di https://tarbiyahislamiyah.id/syehk-muhammad-arsyad-thalib-lubis-dan- beberapa-karya-pemikiran/).
Di samping itu, ada karya yang ditulis dalam Bahasa Arab dan Jawi. Juga, beberapa dalam bahasa daerah di Sumatera Utara, seperti Karo dan Batak.
Berjuang Dan Berjuang
Demikianlah, sekilas perjuangan dan dakwah Arsyad Thalib Lubis yang wafat pada 6 Juli 1972. Tentu, itu semua sangat menginspirasi kita. Bahwa, di semua lapangan kehidupan kita bisa memperjuangkan Islam.
Berjuang, bisa dengan mengajar yang bisa dilakukan di kelas atau “mengajar” lewat tulisan. Berjuang, dapat dengan cara aktif di partai politik sebagaimana Arsyad Thalib Lubis yang memilih Masyumi sebagai media perjuangan.
Oleh: Aswan Nasution (Penasehat Pengurus Pimpinan Wilayah Al-Washliyah-NTB).
Sumber: Tulisan ini Dinukil dari Buku Berjudul Menulislah, Engkau Akan Dikenang (Inspirasi dari Para Ulama yang Menulis dengan Tinta Emas) Karya M. Anwar Djaelani, Pustaka Al-Kautsar, 2024.
Tercatat juga, Arsyad Thalib Lubis pernah menjadi Lektor pada Sekolah Persiapan Perguruan Tinggi Islam Indonesia di Medan (1953-1954). Menjadi Guru Besar Ilmu Fikih dan Ushul Fikih pada Universitas Islam Sumatera Utara-UISU (1954-1957). Menjadi dosen tetap pada Universitas Al-Washliyah (UNIVA) sejak berdirinya universitas itu (1958) sampai akhir hayat Arsyad Thalib Lubis.
Dia juga berdakwah lewat media perdebatan dengan tokoh-tokoh Kristen di Medan. Berkat dengan penguasaan ilmunya, dia dengan mudah menguasai perdebatan. Adapun di antara tambahan hasilnya, dari materi perdebatan tersebut lalu diterbitkan dalam bentuk buku.
Arsyad Thalib Lubis memang mumpuni dalam pelbagai cabang ilmu Islam, seperti tauhid (aqidah), fikih, ushul fikih, hadits, sejarah dan ktistologi. Hanya saja, keahliannya di bidang kristologi lebih melambungkan namanya sebagai “kristolog besar” dari Sumatera (https://gontornews.com/arsyad-thalib-lubis-ulama-kristolog-berdarah-batak/).
Penulis : Aswan Nasution
Editor : Dedi Suhadi
Sumber Berita: Aswan Nasution













