Mataram, GONTB – Gelaran Lawang Selaparang 3 yang diinisiasi Karang Taruna Kecamatan Selaparang Kota Mataram mampu menghadirkan berbagai kreatifitas mulai dari penampilan wayang botol, tarian, peresean, jalan santai hingga bincang revitalisasi sejarah dan budaya.
Gelaran Lawang Selaparang yang dilaksanakan dari tanggal 22-23 Agustus 2026 di Teras Udayana Mataram mampu menghadirkan pengunjung lintas generasi dari anak-anak hingga orang tua.
Dalam penampilannya, para siswa SD Negeri 122 Mataram lewat wayang botol mengajak masyarakat untuk peduli terhadap lingkungannya dengan tidak membuang sampah sembarangan.
Apalagi, sampah plastik bisa menjadi persoalan di kemudian hari “Mari bersama-sama menjaga lingkungan untuk kepentingan bersama,” kata Dalang wayang botol saat pentas.
Selain wayang botol, penampilan peresean juga mampu memukau pengunjung. Dengan teknik pukulan dan gaya bertarung khas-nya, para pepadu mampu beriringan dengan musik pengiring menambah seru sorak sorai penonton.
Tak kalah menarik, lomba terompah panjang yang membutuhkan konsentrasi dan satu komando melengkapi riuhnya suara penonton.
Pameran Foto Lawas
Hal menarik lain dalam gelaran Lawang Selaparang 3 yakni adanya pameran foto-foto lawas. Foto -foto yang menampilkan Lombok masa Hindia Belanda hingga kini mampu membuat decak kagum pengunjung. “Darimana foto-foto ini didapat,” celetuk seorang pengunjung.
Celetukan itu tentu bukan sekedar suara tapi bentuk apresiasi atas kerja keras tim Lawang Selaparang yang mampu mengumpulkan sekitar 100 foto lawas. “Sekitar 100 foto lawas yang kami siapkan meski tidak semuanya bisa ditampilkan karena keterbatasan tempat,” ucap seorang panitia.
Dalam mengumpulkan foto -foto lawas, panitia harus membuka berbagai web termasuk web dari Belanda yang banyak mendokumentasikan berbagai kegiatan masyarakat Lombok saat itu.
Fitriyah, Siswi kelas 10 SMK Yarsi mengaku tertarik mau mempelajari sejarah setelah melihat foto-foto lawas.
“Saya belum baca sejarah tapi tertarik melihat foto-foto ini (foto lawas). Sekarang saya ingin belajar sejarah,” ungkapnya.
Bahkan Fitriyah berkeinginan untuk menggelar pameran foto dan kegiatan yang berkaitan dengan sejarah pada suatu saat nanti. “Nanti kalau sudah dewasa, saya mau buat pameran seperti ini,” katanya.
Kedepan, Fitriyah berharap pemerintah daerah terus mendorong kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan sejarah sehingga generasi muda tidak kehilangan akar sejarahnya.
“Kalau ada pameran atau kegiatan yang berkaitan dengan sejarah, saya ingin terus hadir,” katanya.
Revitalisasi Sejarah
Sisi lain yang tak kalah menarik dari gelaran Lawang Selaparang 3 yaitu bincang sejarah dengan menghadirkan Guru Besar Sejarah dan Peradaban Islam UIN Mataram, Prof DR Jamaluddin MA.
Dipandu Azizulhaq, Prof Jamaluddin bersama tokoh masyarakat, H. Parman mampu menghadirkan angan ke masa lalu.
Saat itu, lombok bukan hanya sebuah wilayah kecil tapi daerah kaya raya yang mampu mengekspor beras serta kekayaan alam lainnya hingga mancanegara.
“Pelabuhan Ampenan dan pelabuhan lainnya di Pulau Lombok, membuka jalur perdagangan internasional,” kata Prof Jamaluddin.
Tidak hanya itu, jelas Prof Jamaluddin dalam syiar agama Lombok memiliki peran penting Dimana, kitab San Hyan Kamahayanikan, kitab yang disinyalir ditulis pada zamam pemerintahan Mpu Sindok pada abad 10 Masehi dan menjadi salah satu pedoman ajaran Budha ditemukan di Lombok.
Begitupun jejak penyebaran ajaran islam banyak ditemukan di Lombok sejak kedatangan Sunan Prapen hingga kini.
Saat ini, jelas prof Jamaluddin dan diamini H Parman yang perlu dilakukan oleh Pemerintah Kota Mataram adalah melakukan revitalisasi monumen Bumi Gora (Gogo Rancah) dengan aksesorisnnya.
“Monumen Bumi Gora memiliki makna bagi perjuangan rakyat Lombok dalam mengatasi kekurangan pangan,” jelas Prof Jamaluddin.
Dengan adanya revitalisasi monumen Bumi Gora, jelas Jamaluddin generasi masa depan bisa melihat bagaimana masyarakat Lombok menanam padi dengan menggunakan alat tradisional.
“Ini bisa menjadi pembelajaran bagi generasi penerus sehingga bisa memahami perjuangan para leluhurnya,” katanya.*















