Mataram, GO NTB – Rencana Pemerintah Kota Mataram menata kembali Mataram Water Park (MWP) untuk mendukung penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII 2028 mendapat apresiasi dari Ketua Federasi Akuatik Indonesia (FAI) Kota Mataram, H. Afifian Khalid.
Afifian yang juga merupakan Anggota Komisi II DPRD Kota Mataram menilai, penataan MWP menjadi momentum penting untuk menghadirkan fasilitas olahraga akuatik yang memadai, sekaligus memperkuat pembinaan atlet di daerah.
Menurutnya, persiapan NTB sebagai tuan rumah PON 2028 harus dimanfaatkan secara optimal. Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan kompetisi nasional, tetapi juga untuk membangun infrastruktur olahraga yang dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
“Sebagai Ketua Pengkot Federasi Akuatik Indonesia Kota Mataram, kami sangat mengapresiasi dan menyambut baik rencana Pemerintah Kota Mataram untuk kembali menata Mataram Water Park (MWP), terlebih NTB akan menjadi tuan rumah PON XXII tahun 2028,” ujar Afifian.
Ia menegaskan, keberadaan fasilitas kolam renang yang memenuhi standar nasional sangat dibutuhkan untuk menunjang perkembangan olahraga akuatik di Kota Mataram. Terlebih, potensi prestasi atlet daerah dinilai cukup menjanjikan.
Afifian mengungkapkan, pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XII NTB 2026, cabang olahraga akuatik Kota Mataram berhasil menempati posisi runner-up juara umum dengan raihan 13 medali emas, 13 perak, dan 10 perunggu.
Capaian tersebut, menurutnya, menjadi gambaran potensi olahraga akuatik Kota Mataram yang perlu terus dikembangkan melalui dukungan fasilitas dan sistem pembinaan yang memadai.
“Kita perlu melihat bahwa prestasi olahraga akuatik Kota Mataram memiliki potensi besar. Pada Porprov XII NTB 2026, cabang olahraga akuatik berhasil meraih posisi runner-up juara umum dengan perolehan 13 medali emas, 13 perak, dan 10 perunggu,” katanya.
Namun, Afifian menyayangkan kondisi fasilitas olahraga akuatik di Kota Mataram yang hingga kini belum sepenuhnya memadai untuk mendukung pembinaan atlet maupun penyelenggaraan kompetisi berstandar nasional.
Karena itu, ia berharap penataan MWP tidak hanya berorientasi pada kebutuhan penyelenggaraan PON 2028. Perencanaan pengembangan kawasan tersebut juga perlu memperhatikan standar teknis pertandingan serta kebutuhan pembinaan atlet secara berkelanjutan.
Afifian juga menekankan pentingnya keterlibatan Federasi Akuatik Indonesia dalam proses perencanaan dan pengembangan fasilitas tersebut. Hal ini dinilai penting agar pembangunan yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan teknis olahraga akuatik.
“Karena itu, kami berharap penataan MWP memperhatikan standar teknis pertandingan dan melibatkan Federasi Akuatik Indonesia dalam proses perencanaan maupun pengembangannya,” tegasnya.
Di sisi lain, Afifian melihat MWP memiliki potensi yang lebih luas di luar fungsi utamanya sebagai fasilitas olahraga. Dengan pengelolaan yang profesional, kawasan tersebut dapat dikembangkan menjadi destinasi rekreasi keluarga sekaligus memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah.
Menurutnya, optimalisasi MWP juga berpeluang menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Mataram. Dengan demikian, keberadaan fasilitas olahraga tersebut dapat memberikan manfaat bagi pemerintah daerah dan masyarakat secara bersamaan.
“Selain untuk kepentingan olahraga prestasi, MWP juga memiliki potensi ekonomi yang besar. Dengan pengelolaan profesional, fasilitas ini dapat menjadi destinasi olahraga dan rekreasi masyarakat sekaligus salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Mataram,” ungkap Afifian.
Ia berharap penataan MWP mampu menghadirkan infrastruktur olahraga yang berkelanjutan. Fasilitas tersebut diharapkan tidak berhenti berfungsi setelah pelaksanaan PON 2028, tetapi terus dimanfaatkan untuk melahirkan atlet-atlet berprestasi dan melayani kebutuhan masyarakat.
Afifian menilai, keberhasilan pembangunan fasilitas olahraga tidak semata-mata diukur dari kesiapan menjadi tuan rumah sebuah ajang nasional. Lebih dari itu, keberadaan infrastruktur harus mampu memberikan dampak nyata terhadap perkembangan olahraga dan pembangunan daerah.
“Harapan kami, MWP tidak hanya menjadi venue PON 2028, tetapi menjadi warisan infrastruktur olahraga yang berkelanjutan, melahirkan atlet-atlet berprestasi, melayani masyarakat, dan memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah,” tuturnya.
Ia menegaskan, PON 2028 harus menjadi titik awal bagi penguatan olahraga akuatik di Kota Mataram dan NTB. Momentum tersebut diharapkan mampu mendorong pembinaan atlet yang lebih terarah serta meningkatkan kualitas fasilitas olahraga di daerah.
“PON 2028 bukanlah tujuan akhir, melainkan momentum membangun masa depan olahraga akuatik Kota Mataram dan NTB,” pungkas Afifian.














