Abalon: Blue Diamond Penopang Visi NTB Provinsi Kepulauan

- Reporter

Kamis, 13 November 2025 - 15:54 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Budidaya Abalon.

Budidaya Abalon.

Oleh: Dr. Faturrahman (Peneliti Mikrobiologi dan Pemerhati Kelautan Ekonomi Biru NTB)

GONTB – Di era kepemimpinan Gubernur Dr. Lalu Muhammad Iqbal yang bertekad mengubah NTB menjadi “Provinsi Kepulauan”, kita menemukan momentum tepat untuk menghidupkan kembali kejayaan abalon—si kerbau laut yang terlupakan.

Visi provinsi kepulauan tidak sekadar tentang menghubungkan pulau-pulau dengan transportasi, tetapi tentang membangun kemandirian ekonomi berbasis kelautan yang berkelanjutan. Di sinilah abalon memainkan peran strategisnya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Konsep Provinsi Kepulauan yang digaungkan Gubernur IQbal bukanlah retorika kosong. Ini adalah komitmen untuk menjadikan laut sebagai masa depan NTB.

Abalon, dengan karakteristiknya yang hanya hidup di perairan bersuhu ideal dan berkualitas baik, menjadi indikator sekaligus penopang visi ini.

Baca Juga:  Normal 100%, PLN NTB Gerak Cepat Pulihkan Kelistrikan Pasca Banjir di Bima

Budidaya abalon yang berkelanjutan akan menjadi bukti nyata bahwa NTB serius mengelola ekosistem pesisirnya.

Data yang ada justru memperkuat urgensi ini. Sementara produksi abalon tangkapan terus merosot—dari 300 kg per hari di era 1980-an menjadi kurang dari 100 kg sejak 2000—dunia justru mengalami deficit supply hingga 40%.

Inilah peluang emas bagi NTB untuk bangkit sebagai pemain utama melalui budidaya yang terintegrasi.

Bayangkan setiap pulau kecil di NTB memiliki sentra budidaya abalon.

Tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal yang berputar—mulai dari pembibitan, pakan alami (makroalga), pengolahan hasil, hingga pariwisata edukatif.

Baca Juga:  Hari Minggu, Bukan Sekadar Hari Libur dan Pentingnya

Abalon menjadi living proof bahwa pulau-pulau kecil bisa mandiri secara ekonomi tanpa merusak lingkungan.

Yang lebih menarik, budidaya abalon sangat cocok dengan karakteristik masyarakat pesisir NTB. Seperti kerbau yang digembalakan, abalon bisa dibudidayakan dengan sistem keramba apung atau bottom culture yang tidak membutuhkan teknologi rumit.

Ini adalah solusi yang pas untuk diterapkan di pulau-pulau terpencil dengan infrastruktur terbatas.


Namun, mewujudkan ini semua butuh keberanian bertindak. Pemerintah daerah perlu membuat terobosan kebijakan—memprioritaskan zonasi budidaya abalon, memudahkan perizinan, dan memberikan insentif bagi masyarakat yang mau beralih dari penangkapan ke budidaya.

Baca Juga:  PLN Luncurkan Program Womenpreneur Empowerment, Wujudkan Perempuan Berdaya di Desa Medana

Dunia penelitian juga ditantang untuk tidak berhenti pada publikasi ilmiah. Dibutuhkan inovasi konkret—bagaimana menghasilkan bibit abalon unggul, pakan efisien, dan teknik budidaya yang adaptif dengan perubahan iklim.

Visi Provinsi Kepulauan Gubernur Iqbal adalah kompas yang tepat. Sekarang saatnya kita berlayar dengan abalon sebagai salah satu kapal andalan.

Dengan menjadikan abalon sebagai prioritas pembangunan kelautan, kita tidak hanya menyelamatkan spesies yang terancam, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi pesisir yang berkeadilan.

Mari wujudkan bersama: NTB bukan hanya provinsi kepulauan dalam peta, tetapi kekuatan maritim yang sesungguhnya, dengan abalon sebagai salah satu mutiara yang kembali berkilau. ***

 

Penulis : Dr. Faturrahman

Editor : Redaksi GONTB

Sumber Berita: Dr. Faturrahman

Follow WhatsApp Channel gontb.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Reklamasi Kesadaran: Membedah Paradoks Keadilan dan Manifestasi Nilai Profetik di Indonesia
Hari Minggu, Bukan Sekadar Hari Libur dan Pentingnya
Pertumbuhan Ekonomi Minus, Tapi Tidak Minus Harapan: Jalan Baru NTB dalam Transformasi Kebijakan Ekonomi
Menimbang Posisi Staf Ahli Gubernur dan Usulan Penghapusan oleh Pansus SOTK DPRD NTB
Fenomena Pernikahan Siri: Dalam Bayang-Bayang Keabsahan Agama dan Kerentanan Sosial
Dampak Kenaikan PPN 12 Persen Bagi Masyarakat Menengah ke Bawah
Pentingnya Etika, Profesionalisme, dan Resolusi Konflik dalam Pendidikan Kedokteran: Refleksi dari Kasus Kekerasan di Universitas Sriwijaya
Siti Raihanun dan Harapan Baru: Perempuan Pertama Memimpin Ikatan Duta Bahasa NTB
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 19 Januari 2026 - 20:28 WITA

Reklamasi Kesadaran: Membedah Paradoks Keadilan dan Manifestasi Nilai Profetik di Indonesia

Minggu, 16 November 2025 - 08:09 WITA

Hari Minggu, Bukan Sekadar Hari Libur dan Pentingnya

Kamis, 13 November 2025 - 15:54 WITA

Abalon: Blue Diamond Penopang Visi NTB Provinsi Kepulauan

Jumat, 24 Oktober 2025 - 23:02 WITA

Pertumbuhan Ekonomi Minus, Tapi Tidak Minus Harapan: Jalan Baru NTB dalam Transformasi Kebijakan Ekonomi

Selasa, 20 Mei 2025 - 15:20 WITA

Menimbang Posisi Staf Ahli Gubernur dan Usulan Penghapusan oleh Pansus SOTK DPRD NTB

Berita Terbaru