Lari Sebagai Gaya Hidup Urban: Antara Kesehatan dan Status Sosial

- Reporter

Senin, 6 Januari 2025 - 20:32 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Abdul Ali Mutammima Amar Alhaq, Penghobi Lari Lombok. Foto (Doc.Pribadi)

Oleh: Abdul Ali Mutammima Amar Alhaq, Penghobi Lari Lombok. Foto (Doc.Pribadi)

GONTB – Belakangan ini, olahraga lari mengalami transformasi yang begitu besar. Olahraga lari yang awalnya hanya aktivitas fisik dengan tujuan untuk menjaga kesehatan, kini menjelma menjadi  fenomena sosial yang kompleks, terutama di masyarakat perkotaan.

Tidak lagi sekedar aktivitas individu, lari telah menjadi simbol gaya hidup modern. Event lari berskala besar, kemudian fun run, komunitas lari, hingga perlengkapan lari berteknologi tinggi menjadi bagian tak terpisahkan dari pesatnya perkembangan olahraga lari.

Baca Juga:  Tiket Proliga 2025 Tersedia di PLN Mobile, Begini Cara Pembeliannya!

Namun, pesatnya perkembangan olahraga lari, memunculkan pertanyaan: apakah popularitas olahraga lari kini semata-mata didorong oleh kesehatan akan pentingnya kesehatan badan, atau ada dimensi lainnya seperti status sosial kemudian konsumerisme turut hadir di permukaan?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tulisan ini, mencoba mengurai fenomena lari dari beragam perspektif, mulai dari solidaritas, simbol status, hingga privatisasi ruang public.

Baca Juga:  Momen Patrick Kluivert Pegang Jersey Timnas Indonesia dan Pakai Peci Hitam

Kehidupan masyarakat khususnya di perkotaan, identik dengan aktifitas yang padat, tekanan pekerjaan, polusi udara yang mengganggu, kurangnya ruang terbuka hijau, dan tingkat stres yang tinggi. Dalam situasi ini, masyarakat  terjebak dalam rutinitas harian yang monoton dan melelahkan, sehingga mencari cara untuk melarikan diri dari tekanan tersebut menjadi sebuah kebutuhan. Maka, lari menjadi sebuah solusi praktis. Tidak memerlukan biasa besar dan juga lari dapat dilakukan kapan saja serta di mana saja.

Baca Juga:  Galeri Timnas U-19 Siapkan Cara Berbeda Untuk Lawan Vietnam

Lari juga menjadi sebuah bentuk pelarian psikologis. Banyak masyarakat yang penulis temui merasa bahwa lari sangat membantu melepaskan stres, mendapatkan energi baru, dan bahkan menjadi ruang refleksi diri. Dalam hal ini, lari adalah salah satu cara “memperlambat” waktu, walau tubuh sedang bergerak cepat.

Follow WhatsApp Channel gontb.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Laga Bintang Kuripan Cup U-15 2026, Tuan Rumah Kuripan A jadi Juara
Komunitas Lari RUNGER, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Kebersamaan di Lobar
Lepas Peserta Sembalun Mountain Marathon, Gubernur NTB Dorong Perbanyak Event
1000 Pelari serbu MHM, Berikut Konsep Penyelenggara dan Harapan Peserta
Usai MotoGP, Sirkuit Mandalika Bersiap untuk Kejurnas Balap Mobil dalam Rangkaian Mandalika Festival of Speed 2025
Breaking News! Sepakat: PSSI dan Coach Patrick Kluivert Akhiri Kerjasama untuk Timnas Indonesia
Pitwalk Gratis di Mandalika Festival of Speed Round 3!
Gass Pool, Gobar Gunung Sasak Track Extreem Hingga Landscape Indah
Berita ini 8 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 16 Januari 2026 - 06:53 WITA

Laga Bintang Kuripan Cup U-15 2026, Tuan Rumah Kuripan A jadi Juara

Selasa, 23 Desember 2025 - 18:19 WITA

Komunitas Lari RUNGER, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Kebersamaan di Lobar

Senin, 27 Oktober 2025 - 09:06 WITA

Lepas Peserta Sembalun Mountain Marathon, Gubernur NTB Dorong Perbanyak Event

Minggu, 19 Oktober 2025 - 15:47 WITA

1000 Pelari serbu MHM, Berikut Konsep Penyelenggara dan Harapan Peserta

Sabtu, 18 Oktober 2025 - 08:20 WITA

Usai MotoGP, Sirkuit Mandalika Bersiap untuk Kejurnas Balap Mobil dalam Rangkaian Mandalika Festival of Speed 2025

Berita Terbaru