Privatisasi Ruang Publik
Pesatnya minat masyarakat terhadap olahraga lari turut juga membawa isu lainnya, yaitu privatisasi ruang publik. Adanya Event Marathon kemudian fun run oleh sebagian orang dianggap mengambil alih ruang public seperti jalan raya, bahkan dianggap mengganggu aktivitas masyarakat.
Penulis yang juga aktif lari, mengajak masyarakat melihat juga dari sisi yang lain. Umumnya, acara-acara ini dilakukan pada hari libur dan telah mendapatkan izin resmi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari sudut pandang yang lain juga, penulis melihat bahwa event-event tersebut membawa dampak positif, seperti meningkatnya kunjungan ke daerah tersebut dan perekonomian lokal. Penjual makanan, penginapan hingga produk lokal sudah pasti mendapatkan keuntungan dari adanya acara tersebut. Namun, tantangan terbesar tetap pada bagaimana memastikan ruang publik tetap inklusif dan ramah bagi semua orang, termasuk pelari dan masyarakat umum.
Esensi Berlari
Pada dasarnya, lari adalah olahraga yang sederhana. Namun, dalam konteks hari ini, lari telah berkembang menjadi sesuatu yang lebih kompleks dan dapat dilihat dari berbagi dimensi sosial, ekonomi dan budaya.
Penting bagi kita merefleksikan esensi dari olahraga lari ini. Apakah kita berlari untuk menjaga kesehatan fisik dan mental, ataukah kita terjebak dalam tekanan sosial untuk terlihat relevan dengan pelari lain?
Bagi pemerintah, khususnya di NTB, baiknya meningkatkan akses terhadap ruang publik yang ramah bagi pelari. Memperbaiki pasilitas olahraga, terutama kaitannya dengan atletik. Karna bagaimanapun NTB dikenal sebagai salah satu daerah unggulan dalam cabor athletik. Dukungan ini juga sejalan dengan upaya meningkatkan kesehatan masyarakat secara umum.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya













