Budaya Mudik Dan Idul Fitri

- Reporter

Minggu, 30 Maret 2025 - 04:57 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penggagas berdirinya Organisasi Islam Terbesar ke 3 Indonesia wilayah NTB Ust. H. Aswan nasution.

Penggagas berdirinya Organisasi Islam Terbesar ke 3 Indonesia wilayah NTB Ust. H. Aswan nasution.

GONTB – BUDAYA mudik ini adalah berkaitan dengan dorongan alamiah atau fitri manusia, yakni mereka ingin kembali kepada hal-hal yang berdemensi asal, seperti ingin kembali kepada orang-orang yang paling dekat atau ibu-bapak dan saudara.

Dorongan dan kerinduan yang bersifat natural atau fitri itu juga merupakan dorongan yang mengajak orang kembali kepada asalnya, yakni kesucian, ingin meminta maaf kepada mereka.

Dari segi ajaran agama, mudik merupakan pelaksanaan perintah ajaran agama, yakni menjadikan Idul Fitri sebagai sarana atau medium bermaaf-maafan setelah menjalani tobat dan meminta maaf atau ampunan kepada Allah SWT.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagai sarana meminta maaf, Idul Fitri juga merupakan ajang menjalin silaturahmi, menjalin kasih sayang yang dimulai dengan meminta maaf kepada orang tua dan sanak saudara.

Hal ini pun kemudian menjadi hal yang sangat mendasar dalam melaksanakan dan merayakan Idul Fitri. Artinya, bagi perantau, merayakan hari raya Idul Fitri tanpa mudik sepertinya non-sens, nyaris tak bermakna.

Baca Juga:  Ini Tanggal Penetapan Puasa dan Idul Fitri 2025 PP Muhammadiyah?

Di sisi lain, kepulangan beberapa pemudik ke daerah asal mereka juga ternyata membawa dampak ekonomi yang luar biasa, khususnya berkenaan dengan dampak pemerataan ekonomi ke daerah-daerah. Para pemudik di beberapa daerah tertentu, ketika pulang ada yang disambut oleh pemerintah daerahnya.

Bahkan ada yang dielu-elukan sebagai para pahlawan pembangunan bagi daerah mereka. Dengan begitu, tanpa disadari kegiatan perayaan Idul Fitri dengan mudiknya merupakan blessing under disguise, hal yang tampaknya tidak menguntungkan, tapi ternyata memberikan rahmat tersendiri.

Perayaan Idul Fitri sebenarnya merupakan kemenangan secara batiniah atau ruhani, namun kebahagiaan dan kemenangan batin itu diekspresikan dan ditampilkan dalam hal-hal yang bersifat lahiriah sebagai luapan kebahagiaan batin.

Hal itu diekspresikan seperti dalam bentuk pakaian baru, peralatan rumah baru, makanan, minuman, dan sebagainya. Yang semacam itu, tentulah sah-sah saja.

Namun sebagai orang yang beriman, tetap harus mampu mengendalikan diri dalam batas-batas kewajaran, mencegah tergelincir pada sikap-sikap yang justru dilarang oleh ajaran Islam seperti berpoya-poya atau kikir  karena hanya mementingkan diri.

Baca Juga:  Peristiwa Alam Peringatan Dari Allah Kepada Manusia

Berkenaan dengan sikap merayakan hari raya Idul Fitri, syair berbahasa Arab yang sering dikutip para mubalig, patut kiranya untuk diingat kembali, yakni ” Bukanlah hari raya Idul Fitri bagi orang yang pakaian dan perabotan rumahnya serba baru, tapi hari raya Idul Fitri adalah bagi orang yang beriman dan ketaatannya bertambah.”

Setelah berhasil menjalani ibadah puasa dengan baik, orang yang beriman kemudian oleh Al-Quran dianjurkan untuk bertakbir atau mengagungkan asma Allah SWT. sebagaimana disebutkan, … Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuknya yang diberikan kepadamu supaya kamu bersyukur [QS. Al-Baqarah: 185].

Dengan anjuran takbiran tersebut, sepertinya seorang Muslim yang telah menjalankan ibadah puasa diasumsikan berada dalam kemenangan atau kesucian sehingga yang ada hanya Tuhan dan yang lain dianggap tidak berarti apa-apa. Allahu Akbar, Allah Mahabesar.

Baca Juga:  Momen Pertemuan UAS dan TGB Sita Perhatian Netizen

Salah satu pesan Idul Fitri adalah agar srorang Mukmin mampu bersikap polos dan lugas dalam melihat dirinya yang paling primordial, bahwa pada dasarnya manusia itu makhluk spiritual yang tidak bisa luput dari pengaruh percikan noda.

Noda-noda itu merupakan bagian dari integral dari medan perjuangan hidup ini dan dalam kaitan inilah maka latihan-latihan spritual semacam ibadah puasa dan instrospeksi diri menjadi relevan.

Perjuangan menegakkan nilai-nilai kemanusiaan adalah sebuah serial panjang sepanjang umur manusia dan eksistensi agama.

Hal itu sangat ditekankan di dalam al-Qur’an, karena misi Islam untuk rahmat seluruh alam. Tegaknya nilai-nilai kemanusiaan itulah kemenangan Islam.

Taqabbalallahu Minna Wa Minkum. Semoga Allah SWT Menerima Segala Amal Ibadah Kita dan Memberikan Keberkahan di Setiap Langkah Kehidupan Kita. Selamat Hari Raya Idul Fitri  1 Syawal 1446 Hijriyah. Mohon Maaf Lahir dan Batin. ***

Follow WhatsApp Channel gontb.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hikmah Memberi Maaf Menjelang Datanghya Ramadhan
Hidup Adalah Perubahan
Memperbincangkan Kembali Makna Dakwah Dewasa Ini
Umroh Super Promo Ekonomi hanya 26.9Juta 13 Hari berangkat dari Lombok
Isra’ Mi’raj: Tamsilan Perjalanan Hidup di Masa Kini
5 Keutamaan Puasa Senin dan Kamis
Dzikir: Jalan Pintas Seorang Hamba Menuju Tuhannya
Inilah Pentingnya Shalat
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 27 Januari 2026 - 21:06 WITA

Hidup Adalah Perubahan

Minggu, 18 Januari 2026 - 18:57 WITA

Memperbincangkan Kembali Makna Dakwah Dewasa Ini

Kamis, 15 Januari 2026 - 20:47 WITA

Umroh Super Promo Ekonomi hanya 26.9Juta 13 Hari berangkat dari Lombok

Kamis, 15 Januari 2026 - 19:34 WITA

Isra’ Mi’raj: Tamsilan Perjalanan Hidup di Masa Kini

Kamis, 15 Januari 2026 - 09:57 WITA

5 Keutamaan Puasa Senin dan Kamis

Berita Terbaru