“Dan janganlah kalian memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, dan [janganlah] kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim agar kamu maksud dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.”[QS. Al-Baqarah (2): 188].
KORUPSI di negeri ini seolah sudah menjadi tradisi, menjadi budaya. Bahkan sampai ada yang berkata sinis, “Budaya Barat itu bukan budaya kita. Budaya kita itu korupsi!”
Seperti bercanda, tetapi nyata menggambarkan realitas yang sedang terjadi. Korupsi-setali tiga uang dengan suap-menyuap dan gratifikasi-sudah sangat biasa terjadi nyaris di semua lini. Dari mulai tingkat pemerintahan desa, bahkan RT, hingga ke tingkat pusat, korupsi sudah terjadi, semua ini seolah dimaklumi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Yang lebih membuat miris, korupsi sekarang bukan hanya bernilai puluhan atau ratusan juta rupiah. Bahkan tidak lagi bernilai miliaran atau ratusan miliar rupiah. Korupsi sekarang sudah di angka triliunan, puluhan triliun, bahkan ratusan triliun rupiah. Tidak lagi bernilai ecek-ecek. Angkanya sudah tak masuk akal. Total mencapai ribuan triliun rupiah.
Sudah begitu parahnya, para pelakunya acapkali dibiarkan. Kalaupun ditersangkakan dan dihukum, mereka dihukum dengan sangat ringan. Tak jarang, mereka dibebaskan dari segala dakwaan. Tak sebanding kejahatannya yang sangat luar biasa dan sangat merugikan rakyat.
Tentu menjadi pertanyaan: Apa sebetulnya yang dicari oleh para koruptor? Apa yang menjadikan mereka gemar korupsi, bahkan seolah tak punya urat malu lagi? Padahal, yang mereka nikmati, sebanyak apapun, tak lebih dari secuil kenikmatan duniawi. Kenikmatan dunia, jangankan yang haram, seperti hasil korupsi, bahkan yang halal pun-di sisi Allah SWT-tak bernilai apa-apa.
Jangankan hanya ratusan atau bahkan ribuan triliun rupiah, bahkan andai seorang manusia memiliki bumi dan seluruh isinya, semua itu tetap tak sebanding dengan secuil saja kenikmatan di akhirat [surga]. Secuil saja kenikmatan di surga tak sebanding dengan sebanyak dan seberlimpah apapun dari nikmat duniawi nan abadi.
Begitulah yang Allah SWT gambarkan dalam Al-Qur’an [yang artinya]: Katakanlah. “Kesenangan di dunia ini hanyalah sedikit sekali, sementara akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, dan kalian tidak akan dianiaya sedikitpun”. [QS. An-Nisa’ (4): 77].
Artinya, nikmàt dunia itu seperti air yang menempel di ujung jari. Amat sedikit. Apalagi jika dibandingkan dengan besarnya dan berlimpahnya nikmat surga diakhirat nanti.
Karena itu seorang Muslim yang cerdas sejatinya tidak akan tertipu dengan kenikmatan dunia yang amat sedikit, baik yang halal, apalagi yang haram, seperti korupsi. Meskipun harta yang diperoleh dari korupsi tampak banyak, sejatinya itu hanyalah bagian dari nikmat dunia yang amat sedikit dan akan mendatangkan azab yang besar.
Sebabnya jelas. Korupsi adalah tindakan batil yang telah Allah SWT haramkan: “Janganlah kalian memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil.” [QS. Al-Baqarah (2): 188].
Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulum ad- Din mengatakan bahwa dunia hanyalah tempat
singgah yang pana, sehingga tidak layak bagi seorang Mukmin untuk menjadikan dunia ini sebagai tujuan utama hidupnya.
Semoga Allah SWT memberi kita hidayah dan taufik agar kita selalu diberi kesadaran untuk senantiasa lebih mengutamakan upaya untuk meraih nikmat surga yang tak terhingga dan abadi daripada nikmat dunia yang tak seberapa dan fana ini. Amin.
Walalhu a’lam bish showab.














