“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?. dan kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan pungungmu. Dan Kami tinggikan bagimu sebutan [namamu]. Karena sesungguhnya beserta kusulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai [dari suatu urusan], kerjakanlah dengan sungguh-sungguh [urusan] yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” [QS. Alam Nasyrah: 1-8].
SAYYID MUJTABA MUSAWWI mengungkapkan dalam sebuah karyanya The Inspiring Qur’an bahwa: “Sebagian manusia memaknai kesulitan, cobaan, dan rintangan sebagai penderitaan. Karena itu tidak jarang pribadi-pribadi berjatuhan, tidak mampu bertahan menerima kesulitan yang timbul.
Padahal sunnah alam menentukan bahwa padanan kesulitan adalah kemudahan, dibalik cobaan ada kelapangan dan di antara rintangan ada jalan. Kesatupaduan adalah prinsip keselarasan alam. Jika berlalu siang, tibalah saat malam. Jika beroleh kekalahan, akan tiba saatnya kemenangan. Allah mempergilirkan kehidupan alam, nasib manusia seperti sebuah roda pedati; adakalanya di atas dan adakalanya di bawah.”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ujian dan cobaan merupakan sunnah bagi para Nabi, ulama, orang-orang sholeh, dan manusia besar lainnya. Tidak ada seorang Nabi yang diutus Allah tanpa adanya rintangan, ujian dan cobaan. Sekalipun mereka para Nabi adalah manusia yang didekatkan di sisi Allah, namun ujian, cobaan tidak luput dari mereka. Kadarnya memang berbeda, namun telah menjadi sunnah bagi mereka.
Cara pandang dalam menghadapi persoalan, baik berupa ujian keburukan atau kebaikan, memberi pengaruh terhadap tindakan yang akan diambil. Jika cobaan, tantangan dan rintangan dimaknai secara positif, khusnudzon, akan merangsang pikiran-pikiran kreatif.
Energi luar biasa seketika timbul ketika keadaan menghimpit. Ada semangat dan kemauan untuk bertahan. Seekor kucing jika terjepit pada posisi sulit, bisa jadi akan menerkam wajah kita. Bagi sebagian besar, karya-karya ulama seperti Tafsir Fi Dilalil Quran, dan Tafsir Al-Azhar, maupun tulisan-tulisan berpengaruh lahir dari keadaan sulit.
Sayid Qutub, mujahid yang sastrawan, melahirkan Tafsir Fi Dlilalil Quran di dalam jeruji penjara rezim Anwar Sadat. Karyanya sekarang sangat berpengaruh di kalangan aktivis dakwah, dibaca dan dikaji banyak orang. Tafsir Al-Azhar, karya Buya Hamka juga dihasilkan dari jeruji penjara. Buya Hamka yang disel masa rezim Soekarno, menorehkan mahakarya yang hingga kini bermanfaat bagi perkembangan Islam di Indonesia. Karya-karya Ibnu Taimiyah yang cukup banyak, di antaranya ditulis saat ia dijebloskan di dalam penjara.
Cukup unik memang sikap seorang Muslim. Kata Nabi, “Keadaan orang beriman itu menarik. Jika mereka memperoleh musibah, maka ia bersabar. Dan jika mereka mendapat kebaikan, maka ia bersyukur. Perkara bagi orang beriman segalanya baik.” Persoalan apapun bagi seorang muslim perlu dimaknai secara positif. Sehingga dalam dirinya akan muncul kekuatan tekad, keyakinan, keuletan, dan keimanan.
Kesuksesan dan kebahagiaan yang ditawarkan oleh ajaran Islam lebih hakiki. Islam menyadarkan dan mengarahkan manusia pada tujuan hidup sebenarnya. Karunia Allah berupa akal dan kebebasan kehendak, kekuatan utama memperoleh kesuksesan dan kebahagiaan.
Adanya tekad yang kuat, keyakinan, keuletan dan keimanan memudahkan manusia menggapai kesuksesan dan kebahagian yang sejati. Musawwi [2009] mengungkapkan, “ketika manusia membebaskan dirinya dari menghambakan diri kepada segala sesuatu selain Tuhan dan tidak mematuhi segala sesuatu selain kebenaran, maka ia menemukan sebuah kekuatan yang mengagumkan dan luar biasa dalam dirinya.” Wallahu a’lam bish showab.













