Hijrah dan Perubahan

- Reporter

Rabu, 25 Juni 2025 - 08:11 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis: Aswan Nasution: Alumni 79 Al Qismul A'ly Al Washliyah, Ismai'liyah Medan & Alumni 83' Fak. Syari'ah Universitas Islam Sumatera Utara [UISU] Medan.

Penulis: Aswan Nasution: Alumni 79 Al Qismul A'ly Al Washliyah, Ismai'liyah Medan & Alumni 83' Fak. Syari'ah Universitas Islam Sumatera Utara [UISU] Medan.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Al-Baqarah: 218].

UMAT Islam akan memasuki tahun baru Hijriah ke 1447 H. Berbagai persiapan penyambutan untuk menyerap spirit hijrah telah dilakukan oleh berbagai pihak, agar momentum tahun baru tersebut tidak berlalu tanpa pemaknaan yang berarti.

Namun, lebih dari sekedar kemeriahan agenda kegiatan yang dipersiapkan untuk menyambut tahun hijriah, secara spesifik, kita sebagai seorang Muslim seyogyanya memiliki kesiapan menyambut momentum berharga tersebut sebagai media perubahan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap Muslim menyambut pergantian tahun Hijriah ini dengan kesungguhan untuk benar-benar mengagendakan dan mewujudkan suatu perubahan. Perubahan seperti apa?. Jelas perubahan yang terkandung dari makna hijrah itu sendiri sebagaimana telah disampaikan Rasulullah SAW.

Tahun baru Hijriyah adalah sistem penanggalan Islam yang berdasarkan pada peristiwa hijrah yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya. Peristiwa tersebut menjadi starting point peradaban Islam menuju puncak kejayaan.

Baca Juga:  Kesulitan Mengantarkan Kesuksesan dan Kebahagiaan

Dari peristiwa hijrah itu, spirit iman menjadi nyata dalam kata dan perbuatan, sehingga tidak heran jika setelah hijrah banyak sekali para sahabat yang memiliki kepribadian unggul nan mengagumkan. Perubahan mindset benar-benar terjadi secara totalitas pada diri seluruh umat Islam kala itu.

Prof. Ismail R. Al-Faruqi menjelaskan, bahwa jirah ke Madinah merupakan puncak dari upaya yang lama dalam mencari tempat yang dapat dijadikan sebagai titik tolak pengembangan baru dan sekaligus untuk menata masyarakat Muslim, baik sebagai tatanan sosial maupun negara. Hijrah pertama [ke Habasyah] kata Faruqi lebih lanjut, sungguh baru merupakan pelarian fasif menuju keselamatan, sedang hijrah kedua merupakan suatu langkah dalam mengubah dunia dan memasuki sejarah ke arah baru.

Adalah memang realita, bahwa Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslimin di Makkah tidak lebih dari sekedar rakyat jelata dan masyarakat lemah yang tertindas; tak punya kekuatan apa-apa, kecuali keimanan yang membaja dan kesabaran yang prima. Itu, tak lebih. Baru setelah hijrah, di Madinah, Islam secara resmi eksis, kaum Muslimin mendapat kedudukan [makanah] dan kemudian bisa menjalakan perannya sebagai ummatan wasathan, yaitu ummat pertengahan yang memimpin peradaban dunia.

Baca Juga:  Qurban, Ketaatan Tanpa Batas

Oleh karena itu, ketika kita berbicara tentang hijrahnya Nabi ke Madinah, minimal ada tiga fenomena besar yang sangat jelas sebagai buah hijrah, sehingga hijrah ini menjadi betul-betul sangat penting: Tonggak kebangkitan ummat Islam.

Pertama: Eksisnya agama Islam di atas semua sistem yang ada [dhuhurul Islam ‘ala ad-diini kullih]. Di sinilah janji Allah terwujud, sebagai hasil [natijah] hijrah, bahwa Islam pasti dhuhurur ‘ala ad-diini kullih [eksis di atas semua sistem atau pandangan hidup yang ada].

Kedua, berdirinya negara Islam [qiyamud Daulah al-Islamiyah]. Islam sebagai minhajul hayah, sistim hidup, yang lengkap menata dan mengatur kehidupan manusia secara totalitas baik masalah sosial, politik, hukum, da’wah, jihad, ibadah, aqidah dan seterusnya, semuanya itu tak mungkin bisa diwujudkan tanpa adanya suatu daulah.

Ketiga, Tampil memimpin peradaban dunia [sebagai ummatan wasathan]. Rasulullah Muhammad SAW adalah diutus untuk membawa rahmat kepada seluruh manusia dan sekalian alam.

Baca Juga:  Sekolah : Sarana Untuk Mendidik Akhlak Mulia

Oleh karena itu, negara yang didirikan oleh Nabi bukan saja moderen tapi sungguh sangat unik. Sebuah negara yang tanah airnya tak punya batas-batas geografis yang sempit, dan yang menjadi rakyatnya pun tak didasarkan atas kelahiran, warna kulit, bahasa, bangsa, suku atau kebudayaan.
Tetapi, yang menjadi tanah airnya adalah jagad raya yang pemilik sesungguhnya hanya Allah dan rakyatnya adalah siapa saja yang penting beriman kepada Allah atau mau tunduk kepada hukum-hukum-Nya. [Lihat, Masyarakat Islam, Sayid Quthb, Al-Ma’arif, hal. 70].

Dengan wujud sepert itulah, daulah yang dibangun oleh Rasulullah SAW menjadikan ummatnya yang note bene khoiru ummah sebagai ummatan wasathan [ummat pertengahan] yang tampil memimpin peradaban dunia, menyerukan yang makruf dan mencegah segala bentuk kemunkaran sekaligus menjadi saksi atau penjaga atas seluruh pola tingkah ummat manusia.

Akhirnya tak bisa dipungkiri bahwa kebangkitan kembali ummat Islam adalah satu-satunya alternatif sangat dinantikan. Tapi, bagaimana caranya? Sederhana saja. Itu tak mungkin, kecuali dengan cara yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Wallahu a’lam bish showab.

Follow WhatsApp Channel gontb.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Keutamaan Puasa Ramadhan Hari ke-11 Tahun 1447 Hijriah: Meraih Ampunan dan Syafaat
Puasa dan Seni Hidup dalam Perbedaan
Hikmah Memberi Maaf Menjelang Datanghya Ramadhan
Hidup Adalah Perubahan
Memperbincangkan Kembali Makna Dakwah Dewasa Ini
Umroh Super Promo Ekonomi hanya 26.9Juta 13 Hari berangkat dari Lombok
Isra’ Mi’raj: Tamsilan Perjalanan Hidup di Masa Kini
5 Keutamaan Puasa Senin dan Kamis
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 1 Maret 2026 - 05:02 WITA

Keutamaan Puasa Ramadhan Hari ke-11 Tahun 1447 Hijriah: Meraih Ampunan dan Syafaat

Senin, 23 Februari 2026 - 22:31 WITA

Puasa dan Seni Hidup dalam Perbedaan

Kamis, 5 Februari 2026 - 22:16 WITA

Hikmah Memberi Maaf Menjelang Datanghya Ramadhan

Selasa, 27 Januari 2026 - 21:06 WITA

Hidup Adalah Perubahan

Minggu, 18 Januari 2026 - 18:57 WITA

Memperbincangkan Kembali Makna Dakwah Dewasa Ini

Berita Terbaru