Mencintai Allah dan Rasul-Nya

- Reporter

Kamis, 6 November 2025 - 20:11 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran [3]: 31).

GONTB – Sebagaimana cinta pada umumnya kepada Allah dan Rasul-Nya juga memiliki beberapa ciri yang harus ada pada setiap muslim manakala dia ingin termasuk ke dalam kelompok orang yang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Berikut ini ciri-ciri cinta tersebut:

1. SELALU INGAT

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Orang yang dimabuk cinta biasanya selalu ingat atau tak pernah lupa dengan yang dicintainya, dalam bahasa Islam disebut dengan dzikir. Kalau orang Islam cinta kepada Allah, maka dia selalu ingat dan menyebut nama Allah.

Jika seorang Muslim cinta kepada Allah, tentulah ketika mau makan dia ingat kepada Allah sehingga tak lupa baca basmallah dan doa, sesudah makan juga begitu, bahkan setiap akan melakukan aktivitas sebelum dan sesudahnya, orang yang cinta kepada Allah itu selalu menyebut nama-Nya.

Baca Juga:  Kenapa Harus Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW

Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab [33]: 41-42).

Bila seorang Muslim cinta kepada Allah dan Rasul-Nya selalu ingat kepada Allah, niscaya dia tidak akan menyimpang dari jalan yang telah ditetapkan di dalam Islam.

2. RINDU

Cinta juga membuat orang bisa rindu dengan yang dicintainya. Dengan rindu seseorang ingin jumpa dan perjumpaan orang yang dirindu adalah pertemuan mesra. Pertemuan dengan Allah itu misalnya melalui shalat.

Karena itu bila seseorang betul-betul cinta kepada Allah, mak bila shalat sedang berlangsung dia akan melaksanakannya dengan khusyu’ karena perjumpaannya memang sangat mesra.

Tapi bila tidak berjumpa secara langsung biasanya ada komunikasi dalam bentuk lain, misalnya melalui surat. Adapun dengan Allah, bila seseorang cinta kepada-Nya, maka surat-surat-Nya yang 114 itu (Al-Qur’an) akan dibacanya dengan senang dan sepenhuh hati.

Baca Juga:  Manusia Hidup di Waktu Ashar?

Bahkan pada saat dia membaca “surat-surat cinta” itu dia merasa amat dekat dengan Allah Swt, dia baca dengan baik dan benar satu kata demi satu kata, satu kalimat demi satu kalimat, dipahami dengan baik lalu dilaksanakan pesan-pesan-Nya.

Allah berfirman: “Katakanlah: “Jika kamu benar- benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali-Imran [3]: 31).

3. CEMBURU

Cinta selalu terkait dengan cemburu. Orang yang bercinta biasanya punya rasa cemburu, akan cemburu bila yang dicintainya diganggu maka dia kan selalu melakukan pembelaan.

Bila seorang Muslim cinta kepada Allah dia akan melakukan pembelaan bila agama Allah diganggu, ini berarti orang yang cinta kepada Allah mesti membuktikan rasa cintanya itu dengan ikut serta dalam perjuangan menegakkan agama Allah di muka bumi ini.

Baca Juga:  Tutup Ramadhan, Sempurnakan dengan Zakat Fitrah

Kecemburuan orang-orang yang tidak suka kepada kemajuan Islam dan umatnya semakin terbukti, karena itu mutlak bagi setiap Muslim untuk berjuang membela Islam dan saling menolong bersama umat Islam dalam menghalau kebencian mereka.

Allah berfirman: “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.” (QS. Al-Baqarah [2]: 217)

Akhirnya menjadi jelas bagi kita semua bahwa, Allah Swt memberikan rasa cinta kepada kita, dan tidak dilarang mencintai segala sesuatu selama tidak melebihi kecintaan kita kepada Allah Swt.

Maka cintai itu suci yang tidak boleh kita nodai dengan hal-hal yang dibencei oleh Allah dan Rasul-Nya. Kalau dengan dalih cinta lalu kita turut kehendak manusia yang tidak benar, bisa jadi kita telah menuhankan manusia itu. Wallahu a’lam bishshowab.

Referensi: Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Dakwah (PPD) Kharu Ummah, 1996.

Penulis : Aswan Nasution

Editor : Lalu Sahid Wiadi

Sumber Berita: Aswan Nasution

Follow WhatsApp Channel gontb.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Anggota DPR RI F-NasDem, Fauzan Khalid Berperan Besar Kembangkan Santri Penghafal Al-Qur’an
Keutamaan Puasa Ramadhan Hari ke-11 Tahun 1447 Hijriah: Meraih Ampunan dan Syafaat
Puasa dan Seni Hidup dalam Perbedaan
Hikmah Memberi Maaf Menjelang Datanghya Ramadhan
Hidup Adalah Perubahan
Memperbincangkan Kembali Makna Dakwah Dewasa Ini
Umroh Super Promo Ekonomi hanya 26.9Juta 13 Hari berangkat dari Lombok
Isra’ Mi’raj: Tamsilan Perjalanan Hidup di Masa Kini
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 22:15 WITA

Anggota DPR RI F-NasDem, Fauzan Khalid Berperan Besar Kembangkan Santri Penghafal Al-Qur’an

Minggu, 1 Maret 2026 - 05:02 WITA

Keutamaan Puasa Ramadhan Hari ke-11 Tahun 1447 Hijriah: Meraih Ampunan dan Syafaat

Senin, 23 Februari 2026 - 22:31 WITA

Puasa dan Seni Hidup dalam Perbedaan

Kamis, 5 Februari 2026 - 22:16 WITA

Hikmah Memberi Maaf Menjelang Datanghya Ramadhan

Selasa, 27 Januari 2026 - 21:06 WITA

Hidup Adalah Perubahan

Berita Terbaru