“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak akan dapat menentukan jumlahnya.” (QS. An-Nahl: 18).
GONTB – BUKANKAH setiap saat, setiap menit, bahkan setiap detik, kita selalu mengkonsumsi dan menikmati fasilitas dan anugerah Allah Swt.
Tanpa anugerah dan fasilitas dari Allah itu, dapatkah jantung kita berdetak, darah kita mengalir, mata kita melihat, telinga kita mendengar?
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Betapa besar anugerah dan nikmat Allah dari mulai yang makro sampai yang mikro, dari yang terlihat mata maupun yang tak terlihat, yang hanya dapat dijangkau dan dijamah oleh rasa dan mata hati.
Cobalah untuk menghitung nikmat Allah, tentu kita akan kehabisan angka dan kemampuan, karena nikmat dan anugerah Allah itu tak terhingga banyaknya.
Syukur adalah semacam manifestasi untuk menyatakan terima kasih pada Tuhan. Sehingga didefinisikan “Syukur adalah mengetahui (Allah) dengan hati, berzikir (mengingat Allah) dengan lisan, dan melaksanakan dengan semua anggota badan”.
Manusia yang tidak mau bersyukur berarti dengan sadar dia membiarkan nikmat itu pergi, padahal perginya nikmat berarti datangnya azab dan bencana.
Betapa besarnya peranan syukur dalam mengikat nikmat-nikmat Allah karuniakan kepada manusia, tetapi karena manusia itu sombong angkuh, dan lupa, maka sedikit sekali manusia yang mau melakukannya.
Allah Swt berfirman: “Dan sedikit sekali di antara hamba-hamba-Ku yang mau bersyukur.” (QS. Saba: 13).
Hakikat syukur adalah menampakkan nikmat antara lain berarti menggunakannya pada tempat yang tepat sesuai dengan yang diinginkan oleh pemberinya, serta mengingat dan menyebut pemberinya dengan lisan.
Syukur Mencakup Tiga Sisi
1. Syukur dengan hati yaitu terdapat rasa puas dalam jiwa atas karunia yang telah diaugerahkan Allah.
2. Syukur dengan lidah yaitu mengakui anugerah dan memuji pemberi-Nya.
3. Syukur dengan perbuatan yaitu memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya oleh Allah Swt.
Syukur dengan hati akan mengantarkan seseorang untuk menerima karunia itu dengan lapang dada, tanpa ada perasaan menggerutu dan keberatan, betapapun kecilnya nikmat itu. Bahkan, semakin tumbuh perasaan syukur yang menimbulkan kesadaran terhadap si pemberi nikmat itu.
Syukur dengan lidah, mengakui dengan ucapan bahwa sumber nikmat adalah Allah Swt seraya memuji. Al-Quran mengajarkan kita untuk mengungkapkan syukyur lisan dengan ucapan Alhamdulillah, yang bermakna bahwa yang paling berhak menerima segala pujian adalah Allah Swt.
Syukur dengan perbuatan, yaitu bekerja untuk menggunakan nikmat yang diperoleh itu sesuai dengan tujuan penciptaan atau penganugerahannya. Ini berarti setiap nikmat yang diperoleh menuntut penerimanya agar merenungkan tujuan dianugerahkannya nikmat tersebut oleh Allah Swt.
Menurut Imam Al-Ghazali, syukur itu mengandung dua makna sebagai berikut:
1. Syukur berarti menyadari secara sungguh-sungguh besarnya nikmat Allah. Kesadaran ini, kata Ghazali, akan menghindarkan manusia dari sikap sombong dan pongah serta sikap lupa diri.
2. Syukur berarti menggunakan semua nikmat Allah sesuai dengan maksud pemberinya. Nikmat itu tidak saja akan bertambah seperti dijanjikan Allah Swt dalam Al-Quran, tetapi juga akan mendatangkan kemaslahatan bagi umat manusia.
Perlu kita ketahui bahwa karunia Allah itu tidak hanya bersifat materi, namun mencakup banyak hal, antara lain kesehatan, kekayaan, keahlian, kesempatan, kemampuan intelektual dan lain sebagainya.
Kekayaan dan harta benda, apabila tidak disyukuri akan menjebak diri kita pada mental materilsik, hidup dalam pola konsumeristik yang diperbudak oleh harta dan kekayaan. Pada akhirnya akan menjauhkan diri kita dari jati diri sebagai manusia yang mulia.
Kita buktikan ungkapan syukur atas segala nikmat karunia Allah curahkan itu dengan seoptimal mungkin. Kita gunakan umur, harta benda, kesehatan dan kemampuan tenaga serta ilmu yang kita miliki untuk beribadah kepada Allah, memberikan kemaslahatan dan kemanfaatan bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara
Dengan demikian, Allah Swt selalu mengingatkan kepada kita tentang sikap bersyukur melalui Firman-Nya:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7).
Secara tegas ayat tersebut menyatakan tentang syukur dan implikasinya, serta akibat buruk yang akan menimpa orang yang mengingkari anugerah dan nikmat Allah Swt.
Sungguh tak bermoral dan tahu diri orang yang enggan bersyukur kepada Allah Swt. Apalagi, sebagaimana telah diketahui bahwa sesungguhnya manfaat dari sikap bersyukur itu sendiri.
Dan sedikitpun Tuhan tidak akan mengambil keuntungan dan tidak pula mendapatkan kerugian dari sikap hamba-Nya, apakah dia bersyukur atau bahkan justru sebaliknya.
Ahli hikmah berkata, “Allah tidak membutuhkan ibadah kita. ‘Ketergopohan-gopohan’, keseriusan, kekhusyuan serta segala pengorbanan kita tidak menambah keagungan-Nya.
Sebaliknya ketidak pedulian, keengganan bahkan keingkaran kita, sama sekali tidak akan mengurangi kehebatan-Nya. Segenap penghambaan itu hakikatnya merupakan wujud dari rasa syukur, menunjukkan kualitas diri kita di hadapan-Nya.”
Semoga Allah Swt. selalu memberikan penerangan hati kita, untuk selalu mengingat kenikmatan yang telah kita terima. Lalu kita mensyukurinya.
Mudah-mudahan bermanfaat dan dapat menggeliatkan hati nurani kita untuk kembali ke jalan Allah, mengorientasikan seluruh fasilitas dan potensi hidup demi penghambaan diri hanya semata-mata kepada Sang Khaliq. Wallahu a’lam bis showab. ***
Penulis : Aswan Nasution
Editor : Lalu Sahid Wiadi
Sumber Berita: Aswan Nasution













