GONTB – Kegiatan Safari Ramadhan bertajuk Jelajah Sosial Autore menyambangi lokasi bencana banjir di Dusun Sungkun, Desa Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur.
Kegiatan ini menjadi bentuk kepedulian sosial terhadap warga yang hingga kini masih bertahan di tengah genangan air yang tak kunjung surut.
Sudah lebih dari satu bulan, sekitar 80 Kepala Keluarga (KK) di dusun tersebut hidup dalam kondisi terendam banjir. Air bah yang datang sejak musim hujan tidak dapat mengalir ke laut karena tidak tersedianya saluran pembuangan atau parit drainase yang memadai. Akibatnya, air tertahan dan menggenangi permukiman warga dalam waktu yang sangat lama.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemandangan di Dusun Sungkun memperlihatkan kondisi yang memprihatinkan. Sebagian warga terpaksa membuat rakit sederhana dari bahan seadanya. Ada pula yang menggunakan sampan kecil sebagai alat transportasi untuk keluar-masuk rumah. Mereka memilih tetap bertahan demi menjaga rumah dan harta benda yang dimiliki.
Sementara itu, kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak sebagian besar telah mengungsi ke rumah tetangga atau keluarga yang tidak terdampak banjir. Namun, para kepala keluarga dan sebagian warga lainnya tetap tinggal untuk menjaga aset mereka dari kerusakan maupun kehilangan.
Banjir ini bukan hanya merendam rumah dan perabotan, tetapi juga melumpuhkan aktivitas harian warga. Untuk memasak pun mereka tidak memiliki tempat yang layak.
Warga terpaksa memasak secara bersama-sama di atas bukit atau lahan yang lebih tinggi dan tidak terkena genangan air. Aktivitas sederhana seperti menyiapkan makanan kini menjadi perjuangan tersendiri.
Dalam kunjungan Safari Ramadhan tersebut, tim Jelajah Sosial Autore menyerahkan bantuan dan berdialog langsung dengan warga untuk mendengar kebutuhan mendesak yang mereka hadapi.
Selain bantuan logistik, warga berharap adanya perhatian serius dari pemerintah terkait solusi jangka panjang, khususnya pembangunan saluran pembuangan air agar bencana serupa tidak terus berulang.
Kondisi Dusun Sungkun menjadi potret nyata bahwa persoalan banjir bukan semata akibat curah hujan tinggi, tetapi juga persoalan infrastruktur dan tata kelola lingkungan yang belum memadai.
Di bulan Ramadhan yang penuh makna ini, solidaritas dan kepedulian diharapkan dapat meringankan beban warga yang telah sebulan lebih hidup dalam genangan. ***














