Tauhid: Mau Selamat? Ikuti Petunjuk Al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW

Penulis: Ustadzah Thoyyibah Bages Ampenan

- Reporter

Sabtu, 7 November 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Kegiatan Sosial Kemanusiaan
+ Donasi

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

🕋 MUJAHID (Mulai Jaga Aqidah Tauhid)

Tema Kajian
👇

TAUHID ( apa dan bagaimana)
MAU SELAMAT? IKUTI PETUNJUK AL-QUR’AN DAN SUNNAH NABI مُحَمَّد ﷺ

Jika kita ingin selamat di dunia dan akhirat, ikutilah petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah Nabi مُحَمَّد ﷺ

UKURAN TAUHID KITA BENAR
👇

MARI IKUTI AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH

Berfirman اَللّهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًا مُّبِينًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila اَللّهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai اَللّهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Nabi مُحَمَّد ﷺ bersabda,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Aku telah tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik; Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Al-Intishar As-Sunnah, hlm. 12-13).

PENGERTIAN AS-SUNNAH_

Pertama: Sunnah bisa maksudnya adalah petunjuk Nabi مُحَمَّد ﷺ secara umum dalam segala urusan Beliau.

Menurut ulama hadits, sunnah adalah ucapan, perbuatan, persetujuan, hingga sifat fisik, dan akhlak Nabi مُحَمَّد ﷺ
Sedangkan menurut ulama Ushul, sunnah adalah ucapan, perbuatan, dan persetujuan Nabi مُحَمَّد ﷺ.

Kedua: Sunnah digunakan untuk lawan kata dari bid’ah.

Orang yang berpegang teguh dengan sunnah disebut ahli sunnah.

Al-Hafizh Abu ‘Amr bin Ash-Shalah rahimahullah pernah ditanya, sebagian orang bertanya tentang Imam Malik bahwa ia menggabungkan sunnah dan hadits. Lalu apa perbedaan antara As-Sunnah dan Al-Hadits?

Ibnu Ash-Shalah rahimahullah menjawab, As-Sunnah di sini adalah lawan kata dari bid’ah.

Bisa saja seorang menjadi ahli hadits, tetapi ia adalah seorang ahli bid’ah (mubtadi’). Imam Malik semoga اَللّهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى meridhai beliau menggabungkan dua sunnah. Beliau itu paham masalah sunnah (hadits) dan keyakinan beliau adalah berpegang pada kebenaran (bukan berpegang pada bid’ah). Wallahu a’lam.” (Fatawa Ibnu Ash-Shalah, 1:139-140)

Ketiga: Sunnah berarti dianjurkan, yaitu lawan dari wajib. Istilah ini digunakan oleh para fuqaha (pakar fikih).

Keempat: Istilah As-Sunnah bisa dimaksud juga adalah akidah.

Aqidah disebut dengan sunnah karena tidak ada ruang bagi akal untuk masuk dalam masalah akidah.
AL-QUR’AN ADALAH SEBAB HIDAYAH

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, Bulan Ramadan terdapat karunia yang besar. Karunia tersebut adalah dengan diturunkannya karunia Al-Qur’an yang mulia. Di dalamnya terdapat hidayah untuk maslahat dunia dan akhirat. Al-Qur’an juga menjelaskan kebenaran dengan penjelasan yang sejelas-jelasnya. Al-Qur’an juga menerangkan manakah yang benar dan batil, manakah petunjuk dan manakah kesesatan, manakah orang yang akan bahagia dan akan sengsara.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 86).

Al-Qur’an itu sebagai petunjuk pada manusia baik yang beriman maupun kafir.

Al-Qur’an menunjukkan manakah syirik, manakah tauhid, manakah kesesatan, manakah hidayah, manakah kejahilan, manakah ilmu. Al-Qur’an itu hidayah dan petunjuk, di mana Al-Qur’an menunjukkan pada hal yang manfaat dalam agama dan dunia. Al-Qur’an juga jadi jalan hidayah ilmiyyah dan amaliyyah.

Al-Qur’an juga adalah bayyinaat, yaitu penjelas dari petunjuk, sebagai hujjah, ayat yang jelas. Al-Qur’an itu berisi hidayah dan irsyad (pembimbingan).

Al-Qur’an juga adalah Al-Furqan, yaitu pembeda antara yang benar dan yang batil, yang halal dan haram, yang baik dan yang buruk.

Baca Juga:  Antara Harta dan Anak

KITA TERUS MENERUS MEMINTA HIDAYAH

Surah dan bagian ayat ini dari surah Al-Fatihah terus menerus kita baca dalam shalat kita karena merupakan rukun shalat,
“اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)

Meminta hidayah yang dimaksud di sini adalah irsyad wa taufiq (pembimbingan dan taufik). Ibnu Katsir berkata,

والهداية هاهنا: الإرشاد والتوفيق

Hidayah yang dimaksud (dalam ayat ihdinash shiroothol mustaqiim) adalah hidayah irsyad dan taufiq.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1:209)

Hidayah sendiri menurut para ulama ada dua macam sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin yaitu:

1. Hidayah ilmi wa irsyad, yaitu hanya sekadar memberikan penjelasan.

2. Hidayah taufiq wa ‘amal, yaitu menerima dan menjalankan syariat.

Ibnu Katsir menyatakan berbagai pengertian shirothol mustaqim yaitu :

1. Jalan Nabi مُحَمَّد ﷺ.
2. Jalan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.
3. Kebenaran.
4. Islam.
5. Al-Qur’an.

Setelah menyebutkan pendapat-pendapat ini, Ibnu Katsir rahimahullah menyampaikan,

وكل هذه الأقوال صحيحة، وهي متلازمة، فإن من اتبع النبي صلى الله عليه وسلم، واقتدى باللذين من بعده أبي بكر وعمر، فقد اتبع الحق، ومن اتبع الحق فقد اتبع الإسلام، ومن اتبع الإسلام فقد اتبع القرآن، وهو كتاب الله وحبله المتين، وصراطه المستقيم، فكلها صحيحة يصدق بعضها بعضا، ولله الحمد.

Semua pengertian di atas itu benar dan semua makna di atas itu saling terkait. Siapa yang mengikuti Nabi مُحَمَّد ﷺ dan mengikuti sahabat sesudahnya yaitu Abu Bakar dan Umar, maka ia telah mengikuti kebenaran.

Siapa yang mengikuti kebenaran, berarti ia telah mengikuti Islam.
Siapa yang mengikuti Islam, berarti ia telah mengikuti Al-Qur’an (Kitabullah), itulah tali اَللّهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى yang kokoh. Itulah semua ash-shirothol mustaqim (jalan yang lurus). Semua pengertian di atas itu benar saling mendukung satu dan lainnya. Walillahil hamd.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1.213)

BAGAIMANA AL-QUR’AN BISA LEBIH BERMANFAAT ?

Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan, “Apabila engkau ingin memetik manfaat dari Al-Qur’an, maka:

Fokuskan hatimu saat membaca dan mendengarkannya. Pasang baik-baik telingamu dan posisikanlah diri seperti posisi orang yang diajak bicara langsung oleh Dzat yang memfirmankannya. Al-Qur’an ini makin sempurna pengaruhnya bergantung pada faktor pemberi pengaruh yang efektif, tempat yang kondusif, terpenuhinya syarat, terwujudnya pengaruh, dan ketiadaan faktor yang menghalanginya. Semua ini telah terkandung dalam firman اَللّهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى,

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (QS. Qaaf: 37).

RINGKASAN LENGKAP UNTUK TADABBUR AL-QUR’AN ADA EMPAT,

1. Ada ayat yang dibaca.
2. Hati kita hidup.
3. Mendengarkan dengan seksama.
4. Tidak lalai dan memahami maksud ucapan.

CONTOH TADABUR AYAT

Berfirman اَللّهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى,

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan اَللّهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At Taubah: 34-35).

Kita sudah bayar zakat apa belum?

Baca Juga:  Mencintai Allah dan Rasul-Nya

Ayat lainnya membicarakan tentang siapa yang berhak menerima zakat,

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk (1) orang-orang fakir, (2) orang-orang miskin, (3) amil zakat, (4) para mu’allaf yang dibujuk hatinya, (5) untuk (memerdekakan) budak, (6) orang-orang yang terlilit utang, (7) untuk jalan Allah (fii sabilillah), dan (8) untuk mereka yang sedang dalam perjalanan (ibnu sabil), sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan اَللّهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, dan Allaah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 60).

Apakah kita sudah benar dalam menyalurkan zakat?

CARA MENAFSIRKAN AL-QUR’AN YANG BENAR

Ibnu Katsir menunjukkan bagaimana cara terbaik menafsirkan Al Qur’an sebagai berikut:

1. Menafsirkan Al Qur’an dengan Al Qur’an. Jika ada ayat yang mujmal (global), maka bisa ditemukan tafsirannya dalam ayat lainnya.

2. Jika tidak didapati, maka Al Qur’an ditafsirkan dengan sunnah atau hadits.

3. Jika tidak didapati, maka Al Qur’an ditafsirkan dengan perkataan sahabat karena mereka lebih tahu maksud ayat, lebih-lebih ulama sahabat dan para senior dari sahabat Nabi seperti khulafaur rosyidin Al-Mahdiyyin yang empat, juga termasuk Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Umar.

4. Jika tidak didapati, barulah beralih pada perkataan tabi’in seperti Mujahid bin Jabr, Sa’id bin Jubair, Ikrimah (bekas budak Ibnu Abbas), ‘Atho’ bin Abi Robbah, Al Hasan Al Bashri, Masruq bin Al Ajda’, Sa’id bin Al Musayyib, Abul ‘Aliyah, Ar Robi’ bin Anas, Qotadah, dan Adh Dhohak bin Muzahim. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, 1: 5-16)

UNTUK MENDAPAT PELAJARAN DARI AL-QUR’AN DENGAN MUDAH ADALAH,

1. Pahami bahasa Arab terutama, ilmu nahwu, sharf, dan balaghah.

2. Menguasai ilmu alat lainnya seperti ushul tafsir dan ushul fikih untuk memahami teks ayat dengan baik.

3. Pahami Al-Qur’an dari kitab tafsir yang sahih, seperti dari Tafsir Al-Jalalain, Tafsir As-Sa’di, dan Tafsir Ibnu Katsir.

4. Rajin membaca Al-Qur’an dengan tadabur.

MENGIKUTI SUNNAH NABI

Dari Abu Najih Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu anhu, Nabi مُحَمَّد ﷺ memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang membuat hati menjadi bergetar dan mata menangis, maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah! Sepertinya ini adalah wasiat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah wasiat kepada kami.’ Nabi مُحَمَّد ﷺ bersabda,

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَي اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada اَللّهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, mendengar dan taat meskipun kalian dipimpin seorang budak. Sungguh, orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku, ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan Sunnah khulafaur rosyidin al-mahdiyyin (yang mendapatkan petunjuk dalam ilmu dan amal). Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta jauhilah setiap perkara yang diada-adakan, karena setiap bidah adalah sesat.” (HR. Abu Daud, no. 4607 dan Tirmidzi, no. 2676. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).

Dari Abu Muhammad Abdullah bin ‘Amr bin Ash radhiyallahu anhuma berkata, Nabi مُحَمَّد ﷺ bersabda,

لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعاً لِمَا جِئْتُ بِهِ

Tidak beriman seorang dari kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” (Hadits hasan sahih, kami meriwayatkannya dari kitab Al-Hujjah dengan sanad shahih).

JANGAN LUPAKAN ULAMA

Berfirman اَللّهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Baca Juga:  Telkomsel ORBIT Sukseskan Streaming Video Safari Dakwah KH Fikri Haikal Zainuddin MZ di Lombok

Hai orang-orang yang beriman, taatilah اَللّهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan taatilah Rasul مُحَمَّد ﷺ (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada اَللّهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى (Al Quran) dan Nabi مُحَمَّد ﷺ (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada اَللّهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya berkata:

Yang dimaksud ulil amri di sini adalah yang mengatur urusan umat.

Ulil amri di sini adalah penguasa, penegak hukum dan pemberi fatwa (para ulama). Urusan agama dan urusan dunia dari setiap orang bisa berjalan lancar dengan menaati mereka-mereka tadi.

Ketaatan pada mereka adalah sebagai bentuk ketaatan pada اَللّهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan bentuk mengharap pahala di sisi-Nya.

Namun dengan catatan ketaatan tersebut bukanlah dalam perkara maksiat pada اَللّهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.

Kalau mereka memerintah pada maksiat, maka tidaklah ada ketaatan pada makhluk dalam bermaksiat pada اَللّهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.

Ulil amri dalam ayat di atas ada empat tafsiran dari para ulama, yaitu ada ulama yang berpendapat bahwa mereka adalah penguasa. Ada juga pendapat lainnya yang menyatakan bahwa ulil amri adalah para ulama.

Dua pendapat lainnya menyatakan bahwa ulil amri adalah sahabat Nabi مُحَمَّد ﷺ, juga ada yang menyebut secara spesifik bahwa ulil amri adalah Abu Bakr dan Umar sebagaimana pendapat dari ‘Ikrimah.

Berfirman اَللّهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir: 28)

Berfirman اَللّهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى,

فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ

Bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahu*an jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Nabi مُحَمَّد ﷺ bersabda,

شِفَاءُ الْعِىِّ السُّؤَالُ

Obat dari kebodohan adalah dengan bertanya.” (HR. Abu Daud, no. 336; Ibnu Majah, no. 572 dan Ahmad, 1:330. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih. Lihat Shahih Al-Jaami’, no. 4363)

Ulama itu pewaris para nabi sebagaimana disebutkan dalam hadits,

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Sesungguhnya ulama adalah yg pewaris para Nabi.
Sesungguh nya Nabi مُحَمَّد ﷺ tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham.
Barangsiapa yang mewariskan ilmu, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.” (HR. Abu Daud, no. 3641. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, Siapa yang mencintai para ulama, boleh baginya mengikuti pendapatnya selama pendapat tersebut sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seperti itu disebut muhsin (orang yang baik). Bahkan keadaan ini lebih baik daripada yang lainnya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 22:249)

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, Yang bisa kita katakan pada orang awam, hendaklah ia taklid (ikut saja pendapat) dari satu orang, tanpa kita tentukan harus ikut Zaid atau ‘Amr. Sedangkan jika kita katakan, Wajib bagi orang awam untuk taklid pada si A atau si B (dengan menunjuk orang tertentu, lalu dilarang ikuti yang lain)”,seperti itu bukanlah prinsip orang muslim yang sebenarnya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 22:249)

Semoga kita terus berada pada petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah dan menjalani petunjuk اَللّهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan Nabi مُحَمَّد ﷺ

Penulis : Ustadzah Thoyyibah Bages Ampenan

Editor : Redaksi GONTB

Sumber Berita: Ustadzah Thoyyibah Bages

Berita Terkait

Jangan Lewatkan! Inilah 5 Keutamaan Sedekah Jumat
Nasehat Kematian
Jendela Dunia, Aswan Nasution: Membaca
7 Keutamaan Hari Jumat Menurut Al-Qur’an dan Hadits
Kenapa Harus Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Mencintai Nabi Sepenuh Hati
Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan Indonesia Ditengah Hantaman Badai Korupsi
Makna Sebuah Do’a yang Mustajab

Berita Terkait

Sabtu, 7 November 2026 - 07:05

Tauhid: Mau Selamat? Ikuti Petunjuk Al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW

Jumat, 6 November 2026 - 08:26

Jangan Lewatkan! Inilah 5 Keutamaan Sedekah Jumat

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 07:58

Nasehat Kematian

Selasa, 20 Oktober 2026 - 17:26

Jendela Dunia, Aswan Nasution: Membaca

Jumat, 4 September 2026 - 12:34

7 Keutamaan Hari Jumat Menurut Al-Qur’an dan Hadits

Berita Terbaru

Go Religi

Jangan Lewatkan! Inilah 5 Keutamaan Sedekah Jumat

Jumat, 6 Nov 2026 - 08:26

Go Teknologi

Manfaat Belajar Komputer

Kamis, 5 Nov 2026 - 08:40