“…Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl [16]: 89).
DI SAAT umat mengalami kemajuan hidup, bermegah-megahan dan hedonis, hanya mengejar dunia dan hiasannya, di saat manusia banyak berbangga-bangga dengan jabatan, kedudukan, anak keturunan, harta benda dan sibuk terus mengurus kesenangan jasmani semata. Dalam pergaulan dunia dimana manusia terbius kesenangan materi, lupa diri dan lupa Tuhan itulah Agama hadir mengingatkan manusia.
Kita seharusnya sadar bahwa kondisi saat ini mungkin lebih parah daripada masa lalu. Siapa yang mengingkari kalau saat ini sesungguhnya kita sedang sangat hedonis (hidup hanya demi materi) dan mengutamakan fisik daripada ruhani.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lihatlah kenyataan yang kita saksikan! Para pengusaha dan para pejabat berlomba-lomba dalam kemewahan dunia, lupa amanat dan lupa tanggung jawab terutama di akhirat nanti. Siapapun kita, kita akan nengiyakan bahwa sekarang ini semua orang yang sedang berjuang menghadapi persaingan hidup, persaingan usaha dan berlomba-lomba mencari pekerjaan, sedikit yang menciptakan peluang usaha.
Kondisi semacam ini semestinya menyadarkan kita, bahwa kita sangat memerlukan ilmu Agama, yang dengan itu kita bisa merebut kemenangan sekaligus meraih maqam tinggi di sisi Allah. Dengan ilmu Agama kita bisa menangkap hal-hal yang tersembunyi. Agama tidak menyuruh kita untuk malas-malasan. Agama menyuruh kita nenggunakan zikir dan fikir. Zikir dan Fikir adalah dua sayap kita untuk terbang secara sempurna ke mana saja kita mau.
Berdebat dalam masalah lahiriah tidak akan ada selesainya, sama persis perdebatannya ahli hukum positif di negeri ini. Lihatlah bagaimana perdebatan para pengacara yang masing–masing membenarkan kliennya, padahal masalahnya satu, tetapi kebenarannya berbeda-beda menurut pendapatnya.
Hukum saat ini hanya sebagai corong, bukan untuk menegakkan keadilan. Pendapat di sini lebih banyak didominasi oleh nafsu dunia, maka akan sulit menemukan hakikat yang sesungguhnya. Dalam kondisi semacam inilah, muncul Agama yang mampu menentramkan hati dan menyampaikan pada kebenaran yang sejati.
Sekarang ini kita hidup dalam suasana yang semuanya serba ada. Ilmu apa saja ada. Ketika kita menginginkan sesuatu yang susah kita dapatkan informasinya, kita tinggal buka internet, kita akan mendapatkan jawabannya. Di saat dunia sedang mengalami kemajuan yang pesat, kecanggihan teknologi mampu membuat manusia bisa melakukan apa saja, justru di situlah persolan manusia semakin bertumpuk.
Cobalah lihatlah masalah di sekitar kita! Satu sisi ada orang yang tidak bisa makan, di sisi yang lain ada orang yang membuang-buang makanan. Di satu sisi ada orang yang bingung cari uang, di sisi yang lain ada orang yang bingung membelanjakan uang. Di satu sisi ada orang yang ingin hidup, di sisi yang lain ada orang yang ingin cepat mati.
Banyak orang yang sudah mendapatkan yang dicari, tetapi tidak menikmati yang didapatkan. Banyak orang yang hidup hanya sekedar hidup, tidak tahu apa yang akan dilakukan hari esok, dan tidak tahu apa yang dicari. Banyak orang yang nampak dari luar segar bugar, tetapi dalam dirinya bersarang banyak bibit penyakit. Banyak orang yang nampak kaya raya, tetapi tahu-tahu seluruh kekayaannya disita.
Banyak orang terbius eforia keterbukaan. Padahal tidak semua orang bisa menikmati keterbukaan secara nyata. Era keterbukaan membuat kita terpacu untuk mengeluarkan adrenalin yang lebih banyak. Bahkan era ini ditandai juga adanya keberanian orang melakukan hal-hal yang aib secara terbuka, korupsi terbuka di mana-mana, melanggar hukum dilakukan dengan terbuka, dan seterusnya dan sebagainya.
Di era sekarang ini kita dituntut punya keberanian untuk melakukan hal-hal yang tidak kita diketahui dan tidak kita kuasai. Kalau tidak, kita akan tersingkirkan. Kita dituntut untuk bisa menghadapi persaingan yang ketat. Kita dituntut untuk bisa eksis mempertahankan hidup yang penuh resiko.
Bagi yang punya kesempatan, akan semakin leluasa menggunakan kesempatan itu untuk nenurutkan nafsunya sampai lupa diri. Bagi yang tidak ada kesempatan, di hanya gigit jari. Begitu banyak masalah yang membentang di hadapan kita, kita kadang tidak ingat lagi diri kita, kita tidak ingat lagi fitrah kita.
Dalam kondisi seperti ini kita perlu sebuah upaya yang bisa membuat manusia kembali kepada firahnya. Agama sesungguhnya cukuplah sebagai jawabannya. Wallahu a’lam bishshowab.
Referensi: Bashirah Teknologi Pemberdayaan Diri, Saifuddin Aman, 2013
Penulis : Aswan Nasution
Editor : Lalu Sahid Wiadi
Sumber Berita: Aswan Nasution














