Lari Sebagai Gaya Hidup Urban: Antara Kesehatan dan Status Sosial

Senin, 6 Januari 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Abdul Ali Mutammima Amar Alhaq, Penghobi Lari Lombok. Foto (Doc.Pribadi)

Oleh: Abdul Ali Mutammima Amar Alhaq, Penghobi Lari Lombok. Foto (Doc.Pribadi)

GONTB – Belakangan ini, olahraga lari mengalami transformasi yang begitu besar. Olahraga lari yang awalnya hanya aktivitas fisik dengan tujuan untuk menjaga kesehatan, kini menjelma menjadi  fenomena sosial yang kompleks, terutama di masyarakat perkotaan.

Tidak lagi sekedar aktivitas individu, lari telah menjadi simbol gaya hidup modern. Event lari berskala besar, kemudian fun run, komunitas lari, hingga perlengkapan lari berteknologi tinggi menjadi bagian tak terpisahkan dari pesatnya perkembangan olahraga lari.

Baca Juga:  Menuju Olympiade, Ini yang dilakukan PB IPSI

Namun, pesatnya perkembangan olahraga lari, memunculkan pertanyaan: apakah popularitas olahraga lari kini semata-mata didorong oleh kesehatan akan pentingnya kesehatan badan, atau ada dimensi lainnya seperti status sosial kemudian konsumerisme turut hadir di permukaan?

Tulisan ini, mencoba mengurai fenomena lari dari beragam perspektif, mulai dari solidaritas, simbol status, hingga privatisasi ruang public.

Baca Juga:  Artis Maia Estianty Kibarkan Bendera Finish Race MotoGP Mandalika Lombok

Kehidupan masyarakat khususnya di perkotaan, identik dengan aktifitas yang padat, tekanan pekerjaan, polusi udara yang mengganggu, kurangnya ruang terbuka hijau, dan tingkat stres yang tinggi. Dalam situasi ini, masyarakat  terjebak dalam rutinitas harian yang monoton dan melelahkan, sehingga mencari cara untuk melarikan diri dari tekanan tersebut menjadi sebuah kebutuhan. Maka, lari menjadi sebuah solusi praktis. Tidak memerlukan biasa besar dan juga lari dapat dilakukan kapan saja serta di mana saja.

Baca Juga:  HUT ke 8, Komunitas Lari Runjani: Dari Lari, Sosial hingga Cinta

Lari juga menjadi sebuah bentuk pelarian psikologis. Banyak masyarakat yang penulis temui merasa bahwa lari sangat membantu melepaskan stres, mendapatkan energi baru, dan bahkan menjadi ruang refleksi diri. Dalam hal ini, lari adalah salah satu cara “memperlambat” waktu, walau tubuh sedang bergerak cepat.

Berita Terkait

Tak Masalah Gubernur Menjadi Ketua KONI NTB
Jungle Fun Run 5K di Suranadi Jadi Kampanye Konservasi Alam NTB
Siswi MTs Negeri 2 Lombok Barat Raih Juara 2 Ajang Pencak Silat Masmirah Championship Cup 2026
Menpora: MotoGP Mandalika kembali hadir, Kenalkan Keindahan Nusantara di Mata Dunia
Lampaui Target! Kontingen Kickboxing Lobar Borong 9 Medali di Lanud ZAM Mataram
PLN UIW NTB Pastikan Pasokan Listrik Andal, Pocari Run Mandalika 2026 Berjalan Lancar
Kartini Race Semarakkan GT World Challenge Asia, Kolaborasi Insan PLN Pastikan Mandalika Terang Benderang
Siswa MTs Negeri 2 Lombok Barat Raih Juara 2 Turnamen Sepak Bola U-12 di Narmada, Muhamad Busrol Karim Jadi Bintang Penyerang
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 15:52

Tak Masalah Gubernur Menjadi Ketua KONI NTB

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 14:48

Jungle Fun Run 5K di Suranadi Jadi Kampanye Konservasi Alam NTB

Jumat, 31 Juli 2026 - 06:54

Siswi MTs Negeri 2 Lombok Barat Raih Juara 2 Ajang Pencak Silat Masmirah Championship Cup 2026

Kamis, 30 Juli 2026 - 11:36

Menpora: MotoGP Mandalika kembali hadir, Kenalkan Keindahan Nusantara di Mata Dunia

Rabu, 22 Juli 2026 - 06:31

Lampaui Target! Kontingen Kickboxing Lobar Borong 9 Medali di Lanud ZAM Mataram

Berita Terbaru

Penulis: Aswan Amir Hasan Nasution

Go Religi

Kenapa Harus Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW

Minggu, 23 Agu 2026 - 09:40

Go Peristiwa

Breaking News : Kampung Adat Sade Lombok Tengah Terbakar

Minggu, 23 Agu 2026 - 07:50