Lombok Barat, GONTB – Menanggapi insiden dugaan keracunan makanan bergizi gratis (MBG) yang dialami 17 siswa SDN 1 Selat, Kecamatan Narmada, pihak pemerintah Desa Selat, Kecamatan Narmada, Kabupaten Kabupaten Lombok Barat memberikan penjelasan resmi terkait kondisi terkini dan langkah penanganan.
“Kemarin waktu kita bawa anak-anak ke Puskesmas Suranadi, semuanya langsung ditangani oleh tenaga kesehatan. Syukurnya kondisi mereka membaik setelah mendapatkan perawatan, dan seluruhnya sudah diizinkan pulang ke rumah masing-masing,” jelas Sabudi, S.Sos.i, Kepala Desa Selat Narmada, Lombok Barat, saat dikonfirmasi langsung ke kediamannya, Kamis, 4 September 2025.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pihaknya belum bisa memastikan penyebab pasti dari gejala keracunan tersebut.
“Sampai sekarang kami belum memperoleh kepastian apa yang menyebabkan keracunan. Apakah berasal dari makanan, dari proses pengolahan atau pola memasaknya, kami masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Jadi, belum bisa kami sampaikan hal itu secara pasti,” terangnya.
Lebih lanjut, Sabudi menyebutkan bahwa saat ini masih menunggu hasil pemeriksaan BPOM untuk mengetahui penyebab pastinya.
“Kami tidak berani menduga sebab Kejadian ini, akan dipastikan setelah hasil uji laboratorium keluar,” imbuhnya.
Ia juga menjelaskan bahwa untuk saat ini, hanya terdapat satu dapur penyedia MBG yang beroperasi diwilayahnya.
“Memang baru satu dapur yang berjalan. Harapan kami, pengelola dapur dapat meningkatkan kualitas, mulai dari proses memasak, penyimpanan, hingga distribusi makanan. Hal ini penting agar standar keamanan pangan benar-benar terpenuhi dan kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” tegasnya.
Sebagai langkah antisipasi, pihaknya menekankan perlunya evaluasi menyeluruh.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami sudah melakukan koordinasi dengan petugas kesehatan, sekolah, dan juga masyarakat penerima manfaat. Kalau ada makanan yang dirasa janggal, sebaiknya jangan langsung dibagikan kepada anak-anak. Guru maupun orang tua juga harus lebih hati-hati dalam mengawasi. Semua pihak perlu terlibat agar program ini benar-benar bermanfaat dan tidak menimbulkan masalah,” ungkapnya.
Menutup keterangannya, Sabudi menegaskan bahwa kasus di SDN 1 Selat merupakan kejadian pertama yang tercatat di wilayah desa Selat.
“Ini baru pertama kali terjadi. Karena itu, kami akan menjadikannya sebagai evaluasi besar agar ke depan pengawasan semakin diperketat. Kami juga berharap penyedia jasa katering bisa meningkatkan kualitas layanan mereka. Anak-anak harus mendapatkan makanan yang sehat, aman, dan benar-benar layak konsumsi,” pungkasnya.
Terpisah kepala dapur Muhammad Asrorudin mengatakan usai mendengar kejadian keracunan, pihaknya dan Babinsa langsung mengantarkan siswa yang di duga mengalami keracunan ke puskesmas.
“Alhamdulillah siswa langsung mendapatkan perawatan insensitif sudah bisa di tangani dan mereka sudah pulang, ” terang Asror. ***














