Sekolah Rakyat tak hanya Belajar, Tapi Menumbuhkan Harapan Kemandirian

Sabtu, 18 Oktober 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pelajar Sekolah Rakyat Terintegrasi 7 Kota Probolinggo ketika melakukan kegiatan di lapangan pada Kamis (16/10/2025). Amiriyandi InfoPublik

Pelajar Sekolah Rakyat Terintegrasi 7 Kota Probolinggo ketika melakukan kegiatan di lapangan pada Kamis (16/10/2025). Amiriyandi InfoPublik

GONTB – Bagi Mochamad Saleh, pendidikan bukan sekadar pilihan, melainkan satu-satunya harapan untuk mengubah nasib. Di usianya yang menginjak 51 tahun, Saleh tetap teguh bekerja sebagai kuli bangunan di Kota Probolinggo. Tubuhnya yang mulai renta tetap dipaksakan kuat demi satu tujuan agar anak-anaknya tidak bernasib seperti dirinya.

“Saya cuma sekolah sampai SD. Bapak saya meninggal waktu saya umur 17 tahun. Karena saya anak tertua, saya yang harus bantu adik-adik,” ujarnya saat ditemui di Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 7, Probolinggo, Kamis (16/10/2025).

Sejak remaja, hidupnya sudah diisi tanggung jawab besar. Ia terpaksa meninggalkan bangku sekolah demi menjadi tulang punggung keluarga. Kakaknya sudah menikah, sementara adik-adiknya masih kecil. Maka ia yang mengambil alih peran orang dewasa, bekerja sebagai kuli bangunan sejak usia belia.

“Separuh hidup saya buat bantu adik-adik dan orang tua. Saya jadi orang tua sebelum waktunya. Karena itu saya nggak mau anak saya mengulang nasib saya,” ungkapnya.

Baca Juga:  STIKES Hamzar Gelar Wisuda dan Pengambilan Sumpah, LLDIKTI Dukung Pembukaan Program S2 Keperawatan

Kini, Saleh memiliki dua anak. Yang bungsu, Yazam, kini menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat yaitu program pendidikan gratis yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. Berkat bantuan Program Keluarga Harapan (PKH), Yazam bisa bersekolah tanpa memikirkan biaya.

“Saya bersyukur sekali. Terima kasih pada Pak Presiden Prabowo dan para menteri yang sudah bantu kami orang kecil. Saya pengin anak saya jadi orang pintar,” ujarnya penuh rasa terima kasih.

Penghasilan sebagai tukang bangunan sangat tidak menentu. Terkadang ada pekerjaan, kadang tidak sama sekali. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia harus mengatur uang dengan sangat ketat.

“Kalau enggak ada bangunan, ya irit-irit makan. Nabung? Susah. Bahkan buat bensin ke sekolah anak saja kadang ngos-ngosan,” katanya.

Namun semua keterbatasan itu tidak menggoyahkan semangatnya. Ia rela hanya bertemu anak seminggu sekali demi bisa menyisihkan ongkos transportasi.

Baca Juga:  Narkoba Mengintai, MAN Lombok Barat Lakukan Ini

“Sedih juga jauh dari anak. Tapi lebih sedih lagi kalau dia bodoh kayak saya. Saya lebih baik berkorban sekarang, daripada anak saya nggak punya masa depan.”

Ia mengaku, saat pertama kali mendengar anaknya bisa sekolah di SR, ia sempat khawatir. Bukan karena sekolahnya, tapi karena takut tak bisa membiayai kebutuhan lain. Tapi setelah dijelaskan bahwa semua kebutuhan ditanggung, hatinya lega.

“Awalnya anak saya juga ragu. Tapi saya bilang, ‘Nak, kamu harus sekolah. Bapak nggak bisa sekolah, kamu harus bisa,” katanya.

Seiring waktu, ia melihat perubahan positif pada Yazam. “Dulu pegang HP terus, sekarang nggak lagi. HP-nya disita ibunya supaya dia fokus belajar. Sekarang lebih nurut, lebih semangat,” jelasnya.

Ia sadar, berkumpul dengan anak adalah kebahagiaan. Tapi bagi Saleh, kebahagiaan yang lebih besar adalah melihat anaknya bisa mandiri. “Kalau cuma kumpul terus tapi anak nggak sekolah, apa gunanya? Saya pengin dia jadi orang sukses. Biar hidupnya nggak susah kayak saya,”

Baca Juga:  Bupati LAZ dan Dinsos Ungkap Kolaborasi di Balik Berdirinya Dua Sekolah Rakyat

Saleh berharap program Sekolah Rakyat bisa terus berlanjut dan bahkan ditingkatkan hingga jenjang perguruan tinggi. “Kalau dulu ada sekolah kayak gini, saya pasti sekolah terus. Tapi nggak apa-apa. Sekarang anak saya punya kesempatan itu. Saya akan dukung terus.”

Di tengah suara bising proyek pembangunan yang tak pernah henti, Mochamad Saleh sedang membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar bangunan fisik: ia sedang menyusun masa depan anaknya, batu demi batu, harapan demi harapan.

Saleh tak lupa menyampaikan rasa terima kasih yang dalam. “Terima kasih, Pak Presiden. Terima kasih, Pak Menteri. Mudah-mudahan diberi umur panjang dan kesehatan. Program ini sangat membantu orang-orang seperti saya. Saya bahagia sekali,” pungkasnya.

Sumber Berita: Info Publik

Berita Terkait

Polisi Ajak Siswa SDN 3 Taman Sari Biasakan TMT
Mahasiswa UIN Mataram Sosialisasi Pernikahan Dini, Soroti Kesiapan Mental dan Finansial Remaja di Desa Ungga
Bangga! Siswi MTsN 2 Lobar Terpilih Ikuti Jambore Nasional XII Jakarta
Siswi MTs Negeri 2 Lombok Barat Raih Juara 2 Ajang Pencak Silat Masmirah Championship Cup 2026
MTs Negeri 2 Lobar Gandeng SPS Mataram Gelar Servis Oli Gratis untuk Guru dan Murid
MTs Negeri 2 Lombok Barat Raih Prestasi Gemilang, Dominasi Podium Olympiade Bahasa Arab 
Sambut Peserta KKN UGM, Pemprov NTB Ajak Mahasiswa Kolaborasi Bangun Desa Berdaya
MTsN 2 Lobar Gelar Workshop “Deep Learning dalam Kurikulum Berbasis Cinta” Integrasi Teknologi dan Hati dalam Pelajaran

Berita Terkait

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:00

Polisi Ajak Siswa SDN 3 Taman Sari Biasakan TMT

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 14:45

Mahasiswa UIN Mataram Sosialisasi Pernikahan Dini, Soroti Kesiapan Mental dan Finansial Remaja di Desa Ungga

Kamis, 6 Agustus 2026 - 09:16

Bangga! Siswi MTsN 2 Lobar Terpilih Ikuti Jambore Nasional XII Jakarta

Jumat, 31 Juli 2026 - 06:54

Siswi MTs Negeri 2 Lombok Barat Raih Juara 2 Ajang Pencak Silat Masmirah Championship Cup 2026

Jumat, 17 Juli 2026 - 09:22

MTs Negeri 2 Lobar Gandeng SPS Mataram Gelar Servis Oli Gratis untuk Guru dan Murid

Berita Terbaru

Go Pendidikan

Polisi Ajak Siswa SDN 3 Taman Sari Biasakan TMT

Senin, 10 Agu 2026 - 20:00