Makna Sebuah Do’a yang Mustajab

- Reporter

Rabu, 29 Oktober 2025 - 18:17 WITA

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Cucunda Penulis Berdo'a usai melaksanakan Sholat.

Cucunda Penulis Berdo'a usai melaksanakan Sholat.

Oleh: Aswan Amir Hasan Nasution

“Do’a adalah memberi manfaat terhadap apa yang terjadi maupun belum terjadi. Maka hendaklah kalian berdo’a, wahai hamba-hamba Allah.” (HR. Al-Hakim).

​GONTB – SAYIDINA Sa’ad bin Abi Waqash bercerita, pada suatu ketika beliau melewati Sayidina Utsman bin Affan di Masjid Nabawi dan mengucapkan salam kepadanya. Kedua mata Utsman menatap Sa’ad tetapi Utsman tidak menjawab salam.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sa’ad melapor kepada Khalifah Umar atas kejadian yang mengherankannya ini. Umar memanggil Utsman dan bertanya kepadanya, “Apa yang menghalangimu untuk menjawab salam saudaramu?”

Utsman mengatakan, “Aku tidak mendengar dia mengucapkan salam kepadaku “Sa’ad: “Iya! (aku mengucapkan salam kepadamu!)”. Kemudian Utsman teringat dan berkata;

“Ya, aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya, kamu lewat di depanku dan ketika aku sedang memikirkan suatu doa dari Rasulullah Saw. Tidak, demi Allah, aku sama sekali tidak mengingatnya karena penglihatan dan hati sedang tertutup.”

Baca Juga:  Biaya Haji yang Harus Dibayar Jamaah Rp55,43 Juta, Begini Rincian dan Fasilitasnya

Sa’ad hadir di majelis tersebut bersama Utsman, memang Rasulullah Saw, belum sempat mengajarkan doa, keburu datang tamu dan sibuk dengannya sampai Nabi Saw meninggalkan para sahabat dan berjalan pulang ke rumah.

Sa’ad segera menyusul Nabi Saw, dan menanyakan doa yang belum sempat disampaikannya. Nabi Saw menjawab, “Oh, iya, itu doa Dzun Nun (Nabi Yunus Alaihis Salam) ketika ia berada di dalam perut seekor ikan paus, La ila ha illa anta subhanaka innii kuntu minazzalimin (tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berbuat zalim).

Ulama mengatakan, “Sesunguhnya setiap orang Muslim yang berdo’a dengan do’a tersebut dalam suatu permasalahan maka pasti do’anya akan dikabulkan.”

Kisah di atas berasal dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari Syehk Ahmad Syakir mengatakan sanadnya sahih. Masya Allah, kisah yang berkesan sekali dan mengandung banyak pelajaran. Diantaranya:

Baca Juga:  5 Dahsyat Keutamaan Qiyamullail, Nomor 4 dibanggakan Allah SWT di hadapan Malaikat

Pertama, salam merupakan salah satu sarana untuk mempererat persaudaraan di jalan Allah Swt.

Kedua, ketika terjadi salah paham, hendaknya segera diselesaikan dengan baik.

Ketiga, hendaknya kita tidak menghukumi niat saudara kita dengan niat yang buruk. Menghukumi niat amal diri sendiri saja tidak mudah, apalagi menghukumi niat orang lain.

Keempat, sahabat radhiallahu anhum adalah manusia biasa yang bisa lupa atau khilaf. Utsman Radhiallahu Anhu setelah ingat bahwa beliau tidak menjawab salam Sa’ad maka beliau segera beristighfar dan bertaubat.

Kelima, kisah di atas mengajarkan kita untuk memiliki perhatian yang besar terhadap ilmu dan mengajarkan kebersihan hati.

Keenam, hendaklah kita sibuk dengan hal yang menambah iman kita dan jangan sibuk usil mengurusi orang lain yang membuat kita terjerumus berbuat dosa seperti ghibah, ujub, mengadu domba, atau lainnya.

Baca Juga:  Kesulitan Mengantarkan Kesuksesan dan Kebahagiaan

Mengingat Allah itu obat, sedangkan mengingat manusia itu penyakit. Tanda kebangkrutan ketika kita sibuk usil dengan urusan orang lain. Sibuklah menyebutkan ahklak mulia dan sejarah kehidupan Nabi Saw dan para sahabat serta orang-orang saleh merupakan keberuntungan.

Sibuk memikirkan orang lain yang tersandung maksiat, lalu kita mengharapkan diri kita dan mereka bersama-sama agar mendapatkan hidayah Allah merupakan hal yang terpuji. Begitu pula memikirkan dan sibuk mengurusi orang yang dizalimi dan membela mereka merupakan sikap kepahlawanan.

“Ya Allah jauhkanlah kami dari pikiran-pikiran kotor, berilah taufik kepada kami agar apa yang kami pikirkan adalah sesuatu yang menambah iman, rasa cinta, dan rasa takut kepada-Mu.

Ya Allah, jadikanlah kami sebagai orang-orang yang mendapatkan hidayah dan menjadi penyebab orang lain mendapatkan hidayah.” Amin. Wallahu a’lam bish showab.

Referensi:
Fariq Gasim Anuz. Republika.

Penulis : Aswan Nasution

Editor : Lalu Sahid Wiadi

Sumber Berita: Aswan Nasution

Follow WhatsApp Channel gontb.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Anggota DPR RI F-NasDem, Fauzan Khalid Berperan Besar Kembangkan Santri Penghafal Al-Qur’an
Keutamaan Puasa Ramadhan Hari ke-11 Tahun 1447 Hijriah: Meraih Ampunan dan Syafaat
Puasa dan Seni Hidup dalam Perbedaan
Hikmah Memberi Maaf Menjelang Datanghya Ramadhan
Hidup Adalah Perubahan
Memperbincangkan Kembali Makna Dakwah Dewasa Ini
Umroh Super Promo Ekonomi hanya 26.9Juta 13 Hari berangkat dari Lombok
Isra’ Mi’raj: Tamsilan Perjalanan Hidup di Masa Kini
Berita ini 26 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 22:15 WITA

Anggota DPR RI F-NasDem, Fauzan Khalid Berperan Besar Kembangkan Santri Penghafal Al-Qur’an

Minggu, 1 Maret 2026 - 05:02 WITA

Keutamaan Puasa Ramadhan Hari ke-11 Tahun 1447 Hijriah: Meraih Ampunan dan Syafaat

Senin, 23 Februari 2026 - 22:31 WITA

Puasa dan Seni Hidup dalam Perbedaan

Kamis, 5 Februari 2026 - 22:16 WITA

Hikmah Memberi Maaf Menjelang Datanghya Ramadhan

Selasa, 27 Januari 2026 - 21:06 WITA

Hidup Adalah Perubahan

Berita Terbaru