Mataram, GO NTB – Rencana menempatkan mesin insinerator oleh DLH di pasar tradisional mendapatkan perhatian dari wakil ketua komisi III DPRD Kota Mataram Ahmad Azhari Ghufron menilai rencana itu harus di kaji ulang, mengingat kenyamanan dipasar akibat dari operasional mesin insinerator dapat menimbulkan persoalan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ghufron meminta DLH kota Mataram mencari alternatif lain ketimbang rencana menempatkan insinerator di pasar tradisional, meski salah satu sumber sampah di kota Mataram berasal dari pasar tradisional.
“Sebaiknya DLH mencari alternatif lain,” Tegas Ghufron (15/6/2026).
Politisi PAN ini juga menyarankan sebaiknya di tempatkan di lokasi yang jauh dengan pemukiman penduduk supaya tidak menimbulkan persoalan dikemudian hari, mengingat izin insinerator ini minimal 30 meter dari pemukiman sementara jarak pasar dengan pemukiman penduduk begitu dekat.
“Jadi jangan hanya beli saja tapi tidak bisa di gunakan karena ada protes warga,” Terangnya.
Anggota dewan dapil Ampenan ini lebih mendorong memanfaatkan TPST sandubaya, TPS sandubaya dan TPST regional Kebon Talo.
“Lebih baik program pilah sampah dan tempah dedoro ini di maksimalkan kembali,” imbuhnya.
Sebelumnya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram berencana menempatkan insinerator di sejumlah pasar tradisional sebagai upaya mengurangi pengangkutan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) maupun Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Program penempatan insinerator tersebut ditargetkan mulai direalisasikan tahun depan.
Kepala DLH Kota Mataram, Nizar Denny Cahyadi, mengatakan penggunaan insinerator di pasar tradisional diharapkan mampu menyelesaikan persoalan sampah langsung di lokasi sumber. Selama ini, sampah yang dihasilkan pasar masih diangkut setiap hari ke TPA Regional Kebon Kongok di Lombok Barat maupun ke TPS.
“Kalau sudah ada insinerator di pasar tradisional, maka tidak ada pengangkutan sampah ke TPA maupun ke TPS lagi. Karena nanti pengolahan sampah akan selesai di pasar,” ujar Nizar Denny (13/6/2026).
Menurutnya, penempatan insinerator akan diprioritaskan di pasar-pasar dengan volume sampah tinggi, salah satunya pasar besar yaitu Mandalika dan Pasar Kebon Roek yang menghasilkan sampah banyak. Program ini di realisasi melihat kondisi keuangan daerah.














