Curah Hujan Tinggi, Tidak Ada Gudang Penyimpanan Cabe. Ini yang Terjadi!

Rabu, 15 Januari 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Dinas Perdagangan NTB, Baiq Nelly Yuniarti. Foto (Dedi Suhadi)

Kepala Dinas Perdagangan NTB, Baiq Nelly Yuniarti. Foto (Dedi Suhadi)

GONTB – Kepala Dinas Perdagangan NTB, Baiq Nelly Yuniarti menjelaskan tingginya harga kebutuhan pokok terutama cabe di pasaran karena petani gagal panen dan tidak adanya gudang penyimpanan cabe.

“Gudang penyimpanan untuk cabe berbeda dengan gudang lainnya. Pengaturan suhu dan lainnya harus sesuai standar sehingga cabe tidak mudah rusak,” jelasnya, kemarin.

Baca Juga:  PLN Amankan Keandalan Listrik Selama Kunjungan Ibu Wapres dan Seruni Kabinet Merah Putih di Lombok

Nelly mengakui, pihaknya bisa meminta pembuatan gudang cabe  ke pemerintah pusat tapi biaya operasionalnya tidak akan sanggup ditanggung oleh petani karena terlalu besar.

“Biaya listrik dan lainnya besar. Petani tidak akan sanggup,” katanya.

Baca Juga:  Mudik Lebaran!, Masyarakat diminta Waspada Jalur By Pass Arah  Bandara

Akibat tidak adanya gudang penyimpanan, jelas  Nelly petani tidak mempunyai pilihan selain secepatnya menjual cabe ke pasaran.

“Pagi panen siang dijual. Itu yang menyebabkan yang minimnya stok cabe karena semuanya dijual,” katanya.

Nelly mengakui, pemerintah provinsi NTB  pernah melakukan sentuhan teknologi untuk mengatasi melimpahnya cabe tapi teknologi tersebut diperuntukkan ketika  musim kemarau bukan musim penghujan.

Baca Juga:  Kapolda NTB–Imigrasi Perkuat Pengawasan WNA Jaga Mandalika dan Gili Tramena

Saat ini, jelas Nelly  harga cabe di tingkat petani sekitar 60 ribu perkilogram dan ditingkat  pedagang mencapai 70 hingga 80 ribu perkilogramnya. (DSHD)

Berita Terkait

Ngadu Ke Dewan, Kaling Minta Gaji UMR dan Pemekaran Lingkungan
Polda NTB Turunkan Tim Investigasi Laksanakan Olah TKP Lokasi Meninggalnya Penambang di Desa Lantung Sumbawa
Kurang 1×24 Jam Tim URC Polresta Mataram Amankan Diduga Pelaku Penganiayaan dan Bawa Senpi
Kunjungan Wisata Unggulan Mataram Menurun Gegara Tongkrongan, Fraksi PKS Kritik Keras Sikap Pasrah Dispar
Tidak Ingin PPPK Paruh Waktu Hanya Ganti Label, Ini Desakan Ketua Fraksi PKS
Aturan Tempat Hiburan di Mataram, Komisi I: Dukung Investasi Asalkan Bebas Maksiat
40 Tahun Menanti, Sesaot Menuju Kepastian Pengelolaan Hutan
Semangat “Berembuk”, Muhamad Halil Siap Kembalikan Martabat Desa Bagik Polak

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 17:36

Ngadu Ke Dewan, Kaling Minta Gaji UMR dan Pemekaran Lingkungan

Minggu, 6 September 2026 - 17:40

Polda NTB Turunkan Tim Investigasi Laksanakan Olah TKP Lokasi Meninggalnya Penambang di Desa Lantung Sumbawa

Minggu, 6 September 2026 - 17:38

Kurang 1×24 Jam Tim URC Polresta Mataram Amankan Diduga Pelaku Penganiayaan dan Bawa Senpi

Sabtu, 5 September 2026 - 13:33

Kunjungan Wisata Unggulan Mataram Menurun Gegara Tongkrongan, Fraksi PKS Kritik Keras Sikap Pasrah Dispar

Selasa, 1 September 2026 - 22:07

Aturan Tempat Hiburan di Mataram, Komisi I: Dukung Investasi Asalkan Bebas Maksiat

Berita Terbaru