Lombok Barat, GONTB – Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mustafa Ibrahim Al-Ishlahuddiny Kediri, Lombok Barat, menggelar Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana (S-1) ke-XIV, Sabtu (29/11/2025).
Sebanyak 52 wisudawan dari Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) serta Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) resmi dikukuhkan dalam suasana khidmat.
Ketua STID, Abdul Kohar, M.H., menyampaikan harapan agar para lulusan menjadi garda terdepan dalam menyebarkan nilai-nilai Islam moderat di tengah tantangan zaman.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dari 52 mahasiswa yang kita wisuda, kita harapkan mereka menjadi agen moderasi beragama. Tantangan saat ini adalah anti-kekerasan, intoleransi, dan dehumanisasi. Lulusan ini harus menjadi pembawa rahmatan lil ‘alamin,” ujarnya.
Selain itu, Abdul Kohar memaparkan visi pengembangan kampus. Pada tahun mendatang, STID Mustafa Ibrahim berencana bertransformasi menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) dan membuka Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI).
“Tahun depan kami akan membuka Prodi PAI, sehingga nanti bukan hanya kader dakwah yang kita cetak, tetapi juga kader pendidik Islam yang profesional,” jelasnya.
Ia menambahkan, kampus juga terus memperkuat kompetensi bahasa dan wawasan global mahasiswa melalui program pengiriman mahasiswa ke Kampung Inggris (Pare) selama tiga bulan, serta rencana Kuliah Kerja Nyata (KKN) internasional ke Malaysia.
Terkait prospek karier, Abdul Kohar menegaskan bahwa regulasi Kementerian Agama membuka peluang luas bagi lulusan.
Mahasiswa KPI berpeluang menjadi guru PAI, sementara lulusan BPI dapat mengisi posisi guru Bimbingan Konseling (BK), penyuluh, penghulu, maupun jabatan struktural lainnya.
Anggota Senat STID, H. Abdul Azis Faradi, M.Pd., juga mengingatkan para wisudawan tentang pentingnya adaptasi di era dakwah digital.
Ia menekankan agar dakwah berbasis teknologi tetap diiringi dengan dakwah tatap muka (muwajahah) dan nilai-nilai kesantrian.
“Peran media dakwah digital menjadi bagian penting, namun mereka harus tetap mempertahankan akhlakul karimah. Jangan sampai tergerus oleh kemajuan teknologi,” pesannya.
Dalam acara tersebut, senat kampus memberikan penghargaan kepada wisudawan terbaik dari masing-masing jurusan serta kategori non-akademik, termasuk para penghafal Al-Qur’an 15–30 juz.
Wakil Koordinator Kopertais Wilayah XIV Mataram, Prof. Dr. H. Sayid Ali Jadid Al Idrus, M.Pd., yang hadir memberikan orasi ilmiah, menegaskan keunggulan lulusan berbasis pesantren dibandingkan dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Menurutnya, pondok pesantren mengajarkan “sanad ilmu” yang bersambung hingga Rasulullah SAW, serta mendidik hati yang tidak dimiliki oleh mesin.
“Generasi terbaik lahir dari pondok pesantren karena spiritualnya bagus, emosinya stabil, dan wawasannya luas,” tegasnya.
Prof. Sayid Ali juga menyebut pesantren telah mengasah kompetensi abad ke-21, seperti berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas.
“Pikiran boleh global, tapi prilaku tetap lokal. Nilai-nilai keislaman dan keilmuan yang digembleng di pesantren melahirkan ilmuwan yang berbasis hati,” pungkasnya. ***
Penulis : Ramli Ahmad
Editor : Lalu Sahid Wiadi
Sumber Berita: Liputan GONTB














