Catatan Aswan Nasution : Tokoh Teladan Al-Washliyah Mengagumi Buya Hamka

- Reporter

Senin, 21 Juli 2025 - 17:11 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Al-Marhum Haji Bahrum Jamil, SH. Salah Seorang Tokoh Teladan Organisasi Islam Al-Jam'iyatul Washliyah.

Al-Marhum Haji Bahrum Jamil, SH. Salah Seorang Tokoh Teladan Organisasi Islam Al-Jam'iyatul Washliyah.

GONTB – Siapa yang tak mengenal nama  Almarhum Haji Bahrum Jamil, SH, pada zamannya, beliau adalah sosok tokoh terkemuka di Sumatera  Utara bahkan tokoh nasional, tokoh penting di dalam organisasi Islam ke tiga terbesar Indonesia adalah Al-Jam’iyatul Washliyah.

Beliau salah seorang pendiri perguruan tinggi Islam yang pertama yang ada pulau Sumatera yakni Universitas Islam Sumatera Utara [UISU] Medan. Juga beliau pernah menjadi Anggota Konstituante RI dari Fraksi Masyumi serta Mantan Anggota MPR-RI.

Diketahui Buya Hamka, atau lengkapnya Haji Abdul Malik Karim Amrullah, adalah tokoh, Indonesia. Ia dikenal sebagai ulama, sastrawan, sejarahwan, dan pemikir Islam yang memiliki pengaruh besar, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Asia Tenggara.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kiprahnya dalam bidang agama, sastra, dan pemikran Islam telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. Selain itu, Buya Hamka juga dikenal karena: peran aktifnya dalam Muhammadiyah, ia turut memajukan pemikiran Islam Modern dan progresif melalui Muhammadiyah.

Baca Juga:  Berguru Kepada Hamka: Hilang Dendam, Tersisa Cinta

Ternyata hubungan baik Bahrum Jamil dan Buya Hamka sudah terjalin cukup lama, perbedaaan pilihan organisasi Al-Washliyah dan Muhammadiyah, tidak membuat dua tokoh teladan ini sebagai ruang sekat dalam membangun silaturrahim dan keummatan.

Dikutip dalam buku Kenangan-kenangan 70 Tahun Buya Hamka, Panjimas, Jakarta [1983], BahrumJamil, mengkisahkan awal pertemuannya pada Buya Hamka, “Saya sangat gembira dan berbahagia karena ketika terjadi Pemilu yang pertama pada tahun 1955. saya dan Hamka terpilih menjadi Anggota Konstituante RI yang bertugas di Kota Bandung dari Fraksi Masyumi.”

Selanjutnya ia mengenang, “ketika dalam sidang Konstituante Hamka menyalami saya, karena di dalam Konstituante itu saya baca Al-Qur’an mengumandangkan ayat: “Ya ayyuhal ladzina amanu malakum iza kila lakum infiru fisabilillah.” dan seterusnya. Dikeheningan sidang Konstituante, Hamka mendatangi saya dan langsung menyalami saya tanpa komentar. Beberapa tahun kemudian Hamka mengingatkan kembali peristiwa kecil itu, bahwa seorang pemuda Islam telah membacakan ayat-ayat Al-Qur’an di dalam forum Konstituante dengan irama dan seni Islam,” kenangnya.

Baca Juga:  Mengenang: Para Ulama Al-Washliyah memiliki Kontribusi Besar Perjuangan Kemerdekaan RI

Kemudian, Bahrum Jamil, juga mengungkapkan rasa kagumnya terhadap sosok Buya Hamka, hal ini dikatannya, “Darah Pujangga telah mengantarkannya ke puncaknya yang wajar, beliau seorang yang giat membaca dan Self Study [belajar sendiri]. HAMKA menjadi pengarang, penulis, Ulama, politikus dan pejuang tanah air. Di dalam rezim Orde Lama  beliau pernah di- “rendam” selama lebih kurang 3 tahun.”

Tidak hanya berhenti disitu, Bahrum Jamil juga mempersamakan HAMKA dan BUSAYRI dan menyebut “JADILAH HAMKA BUSYAIRI INDONESIA”. Di ketahui Busyairi  adalah pengarang Burdah, sya’ir kecintaan pujangga besar kepada Nabi Muhammad Saw. Banyak persamaan antara Hamka degan Busyairi penyair Burdah yang terkenal itu di dalam kitab Barzanji.

Busyairi lahir di Mesir di sebuah desa bernama Abu Sha Ir pada tahun 608 dan wafat di Iskandariah tahun 697. Busyairi menghadapkan sajaknya kepada arena politik, dan bila perlu mengecam pemerintah, disindirnya penguasa yang korup di negerinya. Busyairi berhasil menempatkan syai’rnya tentang cinta kepada Rasul, demikian pula Hamka pun dapat menyusun suatu Puisi yang indah menggambarkan Rasul tercinta, Muhammad SAW,” urainya.

Baca Juga:  Cerita asal usul Arya Banjar Getas (Bagian 1)

Tidak sampai disitu ketika dalam perjumpaan lain, Bahrum Jamil dan Buya Hamka di Medan, beliau mengatakan, “Hamka pada waktu itu di dalam kedudukannya sebagai Konsul Muhammadiyah Andalas Timur, Hamka meletakkan perhatiannya kepada masaalah keummatan, Hamka mengatakan bahwa beliau akan menulis tentang Al-Washliyah di dalam majalah yang dipimpinnya bernama “Pedoman Masyarakat”, terutama dihargainya kegiatan Al-Washliyah di bidang penyiaran Islam ke Tapanuli Utara.” pungkasnya.

Dalam catatan lain Buya Hamka diberikan penghargaan dan penghormatan yang luar biasa oleh UISU Medan, sebagai Guru Besar dalam mata kuliah kesusastraan.•

Sumber: Kenang-kenangan 70 Tahun Buya Hamka, 1983

Follow WhatsApp Channel gontb.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Berikut Profil Lengkap Bupati Pati Sudewo yang terjaring OTT KPK
Tarung Selak Bunga
Catatan: Aku dan Sepeda Ontel
Berguru Kepada Hamka: Hilang Dendam, Tersisa Cinta
Mengenal Lebih Dekat Arsyad Thalib Lubis, Ulama, Politikus, Kristolog, Jago Debat, Aktif Menulis dan Pendiri Al-Washliyah
Profil Ignasius Jonan, Mantan Menteri ESDM yang bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana
Mengenang H. Bahrum Djamil, SH, Tokoh dan Politisi dari Kalangan Al Washliyah
Siapa Zamroni Aziz? Kepala Kanwil Kemenag NTB, Viral Lempar Gagang Mikrofon Saat Lantik Pejabat!
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 19 Januari 2026 - 22:20 WITA

Berikut Profil Lengkap Bupati Pati Sudewo yang terjaring OTT KPK

Sabtu, 3 Januari 2026 - 19:42 WITA

Tarung Selak Bunga

Jumat, 12 Desember 2025 - 08:47 WITA

Catatan: Aku dan Sepeda Ontel

Senin, 8 Desember 2025 - 22:46 WITA

Berguru Kepada Hamka: Hilang Dendam, Tersisa Cinta

Selasa, 4 November 2025 - 19:43 WITA

Mengenal Lebih Dekat Arsyad Thalib Lubis, Ulama, Politikus, Kristolog, Jago Debat, Aktif Menulis dan Pendiri Al-Washliyah

Berita Terbaru