GONTB – Di kutip dari buku berjudul Buya Hamka karya A. Fuadi (2023), memaparkan kisah yang menarik untuk diketahui, terkait sikap dan kepribadian Hamka yang luar biasa terhadap Bung Karno, dimana dua tokoh penting ini pernah berbeda pandangan dalam idiologi dan politik.
Meski Hamka pernah dipenjara oleh Bung Karno, dengan kebesaran hati Hamka, akhirnya beliau bersedia menjadi imam shalat janazah saat Bung Karno berpulang, tanpa memikirkan dendam sedikit pun.
Untuk lebih jelasnya mari kita ikuti uraian kisah dua tokoh tersebut yang sudah almarhum satu ulama, satu lagi sebagai penguasa (Presiden RI) adalah sebagai berikut:
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pesan Penting Bung Karno Kepada Buya Hamka.
Hamka sudah kenal baik dengan Kafrawi Ridwan, seorang pejabat Departemen Agama yang baik. Setelah bersalaman dan bertanya kesehatan Hamka. Kafrawi mengenalkan temannya.
“Buya, ini Mayjen Soeryo, ajudan Pak Harto. Ada yang ingin beliau sampaikan.” Tentara ini mengambil sikap posisi sempurna sebelum bicara.
Ada pesan penting Bung Karno untuk Buya. Pesannya, bila beliau wafat maka Buya Hamka yang dimintanya untuk jadi imam shalat jenazahnya.”
Berdetak jantung Hamka. Dia tidak sangka sama sekali, saudaranya ini, Bung Karno yang membiarkan dirinya di penjara, tiba-tiba punya sebuah permintaan khusus. Tapi tunggu dulu, kenapa ajudan Suharto yang membawa pesan Bung Karno ini?
“Beliau baru saja wafat di RSPAD pagi ini. Sekarang sedang dibawa ke Wisma Yaso. Semoga Buya bersedia meluluskan permintaan ini.”
Tamunya ini tampak bicara hati-hati sekali, tidak ingin menyinggung perasaan Hamka karena mengerti bagaimana hubungan kedua tokoh ini sejak 1950.
“Innalillahi wainna ilaihi rajiun.” Suara Hamka bergetar dan mulutnya komat-kamit berdoa. Wajah tiba-tiba mendung sementara pelupuk matanya basah.
Di hatinya berkecamuk perasaan kehilangan yang besar. Orang besar itu, orang yang dikaguminya yang sudah dianggap saudara, yang juga membuat dia ditahan, kini telah tiada.
Setelah terdiam sebentar dan menarik napas panjang, Hamka berkata, “Baik, kita berangkat.” Hamka menjawab bagai tak ada masalah antara mereka. Wajah kedua tamunya lega, seperti baru selesai mengangkat beban berat. Tangan Hamka masuk ke sakunya, mencari-cari sapu tangan untuk mengusap matanya.
Hamka berdiri dengan sendu di depan jenazah Bung Karno yang terbujur diam. Pelan-pelan, jarinya menyingkap kain putih tipis yang menutupi wajah bisu itu. Dia tatap lama dengan wajah pilu, dan tanpa dia bisa menahan, kembali matanya banjir. Lensa kacamatanya berembun.
Wajah kawan lamanya, yang dulu hebat gilang gemilang, kini telah menyerah kepada ajal. Mulut dan lidah yang dulu mampu menghipnotis dunia, termasuk dirinya, kini telah terkunci kelu selamanya.
Segala bintang dan mendali yang berkelap kelip di dadanya kini telah diganti dengan gumpalan-gumpalan kapas putih. Kepala yang dulu tampan ditutup peci hitam miring, kini cukup dibelit kafan. Hilang semua wibawa, hilang semua kuasa, yang tinggal hanya jasad belaka.
Hamka Tak Menyimpan Dendam
Di kepala Hamka berkejaran-kejaran kenangan mereka, bagai gambar hidup. Naik turun, senang duka, dekat jauh, tapi yang muncul terakhir adalah damai dan maaf. Dia tak mampu menyimpan dendam, yang ada hanya cinta dan maaf, untuk saudaranya ini. “Aku maafkan engkau, saudaraku,” bisiknya nyaris tak terdengar. Dia maafkan semuanya, dia ikhlaskan segalanya.
Buya Hamka Jadi Imam Shalat Janazah Bung Karno
Kemudian Hamka ke belakangnya. Jemaah sudah menyusun saf. Tinggal menunggu imam saja bergerak. Dia betulkan serban putih dan peci hitamnya. Lalu dia angkat kedua tangannya, dia ucapkan takbir, Allahu Akbar. Di belakangnya, Presiden Suharto, para menteri dan pemuka masyarakat lain, mengikutinya.
Selepas shalat, mata hadirin memandang Hamka dengan hormat, beberapa berbisik dengan takzim. Kebanyakan orang tahu bagaimana Hamka telah menderita ditahan tanpa alasan jelas karena Bung Karno marah dengan kritik Hamka. Namun kini orang yang dijebloskan kepenjara itu yang melepas kepergian Bung Karno. Dengan cinta dan lemah lembut.
Berita Hamka memimpin shalat jenazah Bung Karno. Banyak orang kagum dengan kebesaran hati Hamka. Tapi, ada juga orang yang tidak senang melihat hal ini. Orang ini merasa perlu bertanya langsung ke Hamka dengan agak emosi.
“Apa Buya tidak dendam kepada Soekarno yang sudah memenjarakan Buya? Apalagi dia munafik dan dekat dengan anti Tuhan.”
Hamka mengembangkan senyum dan menjawab dengan tenang, “Hanya Allah yang mengetahui seseorang itu munafik atau tidak. Yang jelas sampai ajalnya dia tetap seorang muslim. Kita wajib menyelenggarakan jenazahnya dengan baik. Saya tidak pernah dendam kepada orang yang menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa.
Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa semua itu merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah sehingga saya dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Al-Qur’an 30 juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu.”
Yang bertanya manggut-mangut. Lalu Hamka menambahkan, “Dan Bung Karno ini berjasa besar untuk umat Islam Indonesia. Dua masjid dibangun di masanya. Satu di Istana Negara, yaitu Masjid Baitul Rahim dan yang satu lagi masjid terbesar di Asia Tenggara, Masjid Istiqlal. Mudah-mudahan jasanya dengan kedua masjid ini dapat meringankan dosa Soekarno.”
Bagi Hamka, memaafkan adalah jalan kemerdekaan dari dendam dan penyakit hati. Ini jalan hidupnya, cara hidupnya. Dia maafkan semuanya, siapa saja. Sejak dulu, sampai nanti.
Di kutip dalam buku Buya Hamka Ulama Umat Teladan Rakyat (2018) Ustadz H. Abdul Somad. Lc., MA juga mengatakan bahwa, “Dalam dirinya ada cinta negara dan semangat berkorban untuk agama. Lembut dalam bermazhab, tapi tegas dalam berprinsip. Lentur dan lunak tutur katanya, tapi keras berpegang teguh pada aqidah.”
Dengan demikian, semoga kisah hidup sosok Buya Hamka ini, dapat menginspirasi, melintasi banyak generasi saat ini, juga menjadikan beliau sebagai guru teladan beragama, bergaul dengan sesama baik berbangsa dan bermasyarakat maupun bernegara.*
Referensi: Buya Hamka, A. Fuadi, Palcon, 2023.
Di nukil oleh: Aswan Nasution, Bandung, 7 Desember 2025.
Penulis : Aswan Nasution
Editor : Dedi Suhadi
Sumber Berita: Aswan Nasution














