GONTB – Untuk diketahui bahwa Alm. H. Bahrum Djamil, SH. adalah merupakan salah satu tokoh dan politisi berpengaruh pada masanya dari kalangan organisasi Al-Jam’iyatul Washliyah (Al-WashIiyah)
Dimana, semenjak mudanya telah berkecimpung dalam dunia politik sebagai contoh mulai tahun 1956-1959 sudah menjadi anggota konstituante Republik Indonesia mewakili daerah Bandung Jawa Barat.
Kemudian aktif dalam usaha melahirkan PARMUSI (Partai Muslim Indonesia) di Sumatera Utara yang diharapkan menjadi partai pengganti Masyumi, kemudian Menjadi ANGGOTA MPR RI mewakili partai persatuan pembangunan (PPP).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Terdapat beberapa perbedaan prinsip antara politikus Partai Islam masa lalu dengan politikus masa kini. Perbedaan-perbedaan yang sangat menonjol adalah:
Politik Partai Islam masa lalu, baik Masyumi atau Nadhalatul Ulama, tidak pernah bicara bahasa kotor, kasar apalagi melempar atau membalikkan meja pada acara persidangan, jarang kita mendengar atau ada yang memulai tentang kampanye hitam.
Ideologi politikus Muslim terdahulu jelas Islam, kampanye mereka untuk mendapat ridho Allah dan persatuan harus lebih diutamakan dengan akidah.
Motivasi politikus pada masa lalu benar-benar menyuarakan hati nurani rakyat dari mereka tidak mendapat honor yang cukup seperti sekarang, sedang masa kini keperluan material lebih diutamakan, karena untuk meguasai rakyat harus mengutamakan nilai material, sedang pada masa lalu menguasai rakyat melalui sikap, Tingkah laku dan Akhlak mulia.
Prinsip-prinsip politik Islam tetap diperjuangkan oleh politikus muslim masa lalu. Prinsip-prinsip yang dimaksud adalah keadilan, musyawarah persamaan, kebebasan dan jihad dalam arti sungguh-sunghuh membela kebenaran dan makruf, pada saat ini demokrasi lebih diutamakan dari pada musyawarah, mereka menuntut musyawarah bila suara mereka diperhitungkan akan kalah bila dilakukan voting.
Atas dasar faktor-fakor diatas elektibilitas partai Islam nasa kini, menurut Masyarakat muslim lebih senang memberi suara kepada paratai Nasional yang mencalonkan pimpinan atau anggota legislatif yang taat beragama dan memperjuangkan cita-cita muslim.
Tujuan akhir dari penerapan sistem politik Islam menurur partai Masyumi yang Alm H. Bahrum Djamil, SH ada di dalamnya adalah merealisasikan masyarakat yang ideal, yaitu masyarakat Hadhari lawan dari baduwi.
Masyarakat Hadhari yang ingin dicapai Masyumi adalah masyakat yang memiliki karakter:
- Masyarakat beriman dan bertakwa.
- Masyarakat yang mencintai ilmu pengetahuan dan teknologi dan berusaha menyebarkan dan mengaflikasikan dalam kehidupan bermasyarakat.
- Masyarakat yang menegakkan keadilan, bebas dari intervensi penguasa yang Zhalim.
- Masyarakat yang menghormati dan memperaktekkan hukum secara adil di masyarakat.
- Masyarakat yang lebih mencintai musyawarah dari demokrasi.
Cita-cita Masyumi dapat dikatakan gagal dan akhirnya partai Islam Masyumi dibubarkan secara paksa oleh Soekarno, presiden Indonesia pada saat itu.
Setelah partai Masyumi bubar, kebanyakan tokoh-tokoh politiknya back to basic aktif kembali dalam organisasi Islam seperti Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), Al-Jam’iyatul Washliyah, Muhammadiyah, Ittihadiyah dan lain-lain, untuk mempersiapkan generasi muslim yang lebih baik lewat universitas, Perguruan tinggi yang mereka dirikan seperti Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, UISU Medan, UNISBA Bandung, Universitas Muslim Indonesia di Makasar, Universitas Ibnu Khaldun di Bogor dan lain-lain.
Politik dalam pandangan orang Masyumi tidak lain dari usaha untuk mencapai Mardhatillah, politik bukanlah satu-satunya aspek terpenting dalam perjuangan Islam, berjuang tidak identik dengan politik, partai politik Islam bukanlah titik sentral perjuangan umat Islam, dan bukan panglima perjuangan kepentingan umat Islam.
Negara yang idealnya menurut Masyumi adalah:
- Negara yang aman dan makmur (QS. Al-Saba’ 34: 15).
- Negara yang memiliki hasil yang baik (QS. Al-Araf 7: 58).
Umat Islam diharapkan dengan gerakan potiknya melahirkan Ummatan Wasatha, yaitu umat yang menjadi wasit,bila umat lain berselisih, trtapi kenyataanya sekarang bila umat Islam berselisih dan bertikai umat kafir diangkat jadi wasit, bahkan sekarang bila Negara Islam dan Arab berperang, Amerika dan Yahudi diangkat menjadi Wasit.
Sebahagian mantan politikus partai Masyumi yang kecewa dengan pembubaran Masyumi, akhirnya menjauh diri dari kegiatan politik praktis, karena mereka menganggap politik di Indonesia, seperti Kumuh bagi muslim yang mengharapkan qalbun salim tidak akan mau mengotori diri dan hatinya dengan berkecimpung di daerah yang kumuh, sungguh banyak ustadz dan ulama kita yang sudah menjadi kumuh menjadi haus material dan kekuasaan.
Sebaliknya orang akademis yang mencintai kebenaran tidak tergiur dengan fatamorgana yang tidak jelas sasarannya.
Demikianlah sekilas sekilas potret Alm. H.Bahrum Djamil, SH, seorang tokoh dan politisi hebat yang pernah dimiliki oleh organisasi Islam Al-Washliyah. Tentu, itu semua sangat meninginspirasi kita. Bahwa, disemua lapangan kehidupan kita bisa memperjuangkan Islam.
Sumber: Dinukil dari In Memorium Bersama H. Bahrum Djamil, SH. Karya Prof. HM. Haballah Thaib, MA, Ph.D dan H. Zamakhsyari Bin Hasballah Thaib, Lc, MA.,Ph.D. 2015.
Penulis : Aswan Amir Hasan Nasution
Editor : Lalu Sahid Wiadi
Sumber Berita: Aswan Nasution














