GONTB – Dari depan sangkep (tempat pertemuan) petani Desa Gondang, Gangga, Kabupaten Lombok Utara (KLU) di tepi sawah, saya memandang ke utara. Senja mulai turun di persawahan yang sedang diairi.
Muhyin, praktisi kebudayaan KLU, menunjuk sebuah dataran yang lebih tinggi di tengah sawah, sekitar 100 meter dari sangkep.
“Itulah Montong Dewa, tempat betabek (permisi), sebelum tanam padi dimulai,” jelas Muhyin.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Persawahan di sekitar Montong Dewa diyakini sudah ada sejak berabad lalu. Areal sawah kelas satu yang jauh lebih dulu ada sebelum nama Gondang lahir. Maka tanam padi di seluruh desa belum boleh dimulai sebelum ritual dilaksanakan di kawasan Montong Dewa.
Jika ada yang melanggar, akibatnya fatal. Bisa-bisa seluruh petani kena getah: sawah-sawah gagal panen.
Montong Dewa tak seberapa luas. Luasnya hanya sekitar tiga atau empat are. Dikelilingi pohon-pohon pisang. Tapi kesakralan tempat ini sudah diyakini turun-temurun. Hanya pekasih (petugas pengatur irigasi) utama yang boleh memasukinya. Ia memanjatkan doa keselamatan, dan permisi pada alam dan leluhur. Memohon keberkahan, agar bibit-bibit padi tumbuh subur, dan menghasilkan bulir-bulir padi yang bernas.
Ritual musim tanam itu dilaksanakan setiap 1 Januari. Disebut dewasain. Boleh jadi karena kesakralan ritual, disertai kegigihan petani setempat, hampir setiap panen hasilnya memuaskan. Dan, beras dari Gondang salah satu komoditas super dari KLU.
Tak jauh dari tempat itu, berdiri sebuah dangau kecil. Muhyin dan teman-temannya sering menghabiskan waktu di situ, terutama ketika purnama dan langit cerah.
Tapi, kerapkali pertemuan tak berlangsung lama. Dari atas dangau terdengar kepakan sayap-sayap yang berat. Sosok-sosok samar beterbangan di sekitar Montong Dewa. Muhyin dan kawan-kawan bubar serempak, berlari ketakutan.
Makhluk-makhluk yang terbang itu disebut sélak, atau tusélak. Sebagian warga menyebut léak.
“Entah dari mana datangnya. Tapi mereka sering berkumpul di sana, terutama setiap ada warga meninggal dunia,” tuturnya.
Sangkepan (pertemuan) tusélak, demikian penduduk menyebutnya. Sélak, makhluk nokturnal, semacam siluman, sering berwujud bermacam hewan.
Dari pinggir dusun, kadang tampak pemandangan ganjil di udara, tepat di atas persawahan. Malam terasa lebih berat. Suara serangga merendah.
“Ada cahaya-cahaya tak berpendar,” kata Muhyin pelan, “Saling bertubrukan.”
Di langit, beberapa titik kehijauan menggantung, lalu bergerak cepat, berpapasan, saling menyergap. Bukan kilat. Bukan juga pantulan lampu. Cahaya-cahaya itu hidup—datang, menghilang, lalu muncul lagi di tempat lain.
“Itu bukan sélak biasa,” katanya. “Disebut sélak bunga. Tingkat tinggi. Mereka sedang adu ilmu.”
Pada saat-saat seperti itu, kata Muhyin, orang-orang memilih menjauh. Pernah ia melihat rumpun bambu di tepi sawah bergoyang hebat, padahal malam tenang, angin mati. Langkah Muhyin tertahan, tubuhnya terasa berat, seolah ada yang mengawasi dari balik gelap.
Saya meraba ransel kecil. Hammock masih tergulung rapi di dalamnya. Selalu saya bawa ke mana-mana. Mendengar cerita Muhyin, saya tiba-tiba ingin menggelar hammock di sangkep. Bermalam, dan menyaksikan sendiri tarung para sélak bunga di angkasa Gondang.
Tapi Muhyin menggeleng.
“Sekarang belum purnama.” Itu artinya, belum waktunya makhluk-makhluk nokturnal itu unjuk diri dan melakukan sangkepan.
Lain waktu saja. ***
Penulis : Buyung Sutan Muhlis
Editor : Redaksi GONTB
Sumber Berita: Buyung Sutan Muhlis













