Mataram, GO NTB — Kasus dugaan penganiayaan dan kekerasan psikis terhadap seorang murid Sekolah Dasar kembali mencuat. Kali ini, menimpa seorang siswa kelas 5 berinisial FN, pelajar SDN 1 Peteluan Indah, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat.
Kasus ini terungkap setelah ibu korban, yang akrab disapa Mama Galuh, mendapati anaknya mengalami trauma berat hingga mengurung diri selama seminggu, menolak makan, dan tidak mau pergi ke sekolah.
Menurut keterangan Mama Galuh, tindakan tidak menyenangkan tersebut diduga dilakukan oleh oknum guru kelas yang bersangkutan dan telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir (sekitar Juli hingga Agustus). Berdasarkan pengakuan korban dan sejumlah teman sekelasnya, oknum guru tersebut kerap melakukan tindakan kekerasan fisik dan verbal.
“Pengakuan anak saya, satu, dia di pukul. Kedua, tidak boleh pipis, tidak boleh BAB (buang air besar) jika izin. Apapun alasannya, tidak boleh. Kalau mau izin BAB maupun pipis, disuruh pipis di celananya masing-masing. Itu berlangsung setiap hari,” ungkap Mama Galuh saat ditemui, menggambarkan penderitaan yang dialami anaknya.
Mama Galuh sempat mendatangi sekolah untuk meminta klarifikasi langsung kepada guru tersebut. Namun, respons yang didapat justru dinilai tidak kooperatif.
“Guru tersebut saya tegur langsung, ‘Bu, mohon maaf, kenapa harus bentak anak saya, mau pukul-pukul meja?’ Jawabnya, ‘Soalnya anak-anak yang lain begini-gini.’ Saya bilang lagi, ‘Oh maaf Bu, kenapa harus di meja anak saya?’ Jawabnya, ‘Itu urusan saya, kalau tidak mau ya silahkan.’ Begitu bahasa guru tersebut,” tutur Mama Galuh dengan nada kecewa.
Merasa tidak mendapat penyelesaian yang adil dari pihak sekolah meski telah berulang kali mencoba mengonfirmasi kepada Kepala Sekolah dengan harapan ada mediasi keluarga korban akhirnya memutuskan untuk membawa kasus ini ke ranah hukum.
Didampingi oleh sang ayah, Turmuzi, pihak keluarga resmi melaporkan kejadian tersebut ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Mataram. Bersamaan dengan laporan tersebut, pihak keluarga juga telah menyerahkan hasil visum.
Dari keterangan saksi sesama murid, tindakan dugaan kekerasan tersebut tidak hanya dialami oleh FN, tetapi juga beberapa siswa lainnya dengan bentuk tindakan seperti dijambak, dipukul, hingga dilarang ke toilet. Akibat tekanan tersebut, FN dikabarkan sempat mengalami gangguan kesehatan, kesulitan buang air besar, hingga ditemukan lebam pada tubuhnya.
Sebagai orang tua, Mama Galuh mengaku sangat terpukul. Ia menegaskan bahwa dirinya menitipkan anak ke sekolah untuk dididik, bukan untuk dianiaya.
“Saya mau guru itu dipecat. Selain dipecat, dia harus mendapat hukuman yang setimpal. Saya tidak pernah pukul anak saya atau kasarin anak saya. Di sekolah, kita titip anak untuk dididik, bukan dianiaya,” tegasnya.
Sementara kepala sekolah SDN 1 Peteluan Indah Sulasih saat di konfirmasi lewat Whatsapp mengatakan sedang berusaha memediasi semua karena ini bagian dari internal sekolah.
“Kita mau memediasi semua pihak, ada pak babin juga,” terang Sulasih.















