Terjemahnya… Prabu Lombok (maksudnya: Kertabumi sebagai raja Lombok/Selaparang) kesal kepada prajuritnya di sebuah desa kecil, Banjar Getas namanya, yang dibela warganya, (peristiwa bermula) karena putri raja tergila-gila pada patih Banjar Getas hingga raja pun marah. Desa tersebut lalu digempur, (walau demikian) bertahun-tahun tak terkalahkan, (sehingga) Prabu Lombok mengundang prajurit Banjar (yang dipimpin) dua orang prajurit tersohor yakni Patih Pilo dan Patih Sutrabaya membantu orang-orang Selapawis (Selaparang) .”
Mencermati catatan dalam babad, Lalu Azhar cenderung menilai kemelut yang melibatkan Arya sudarsana dengan jatuhnya putri istana dari tangga (simbolisasi wanita) adalah kemelut tahta (kekuasaan).
Setelah mendapat bantuan dari kerajaan Banjar, Selarapang berhasil menghancurkan pertahanan rakyat Perigi dan Arya Sudarsana melarikan diri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam pelarian, Arya Sudarsana bertemu dengan wayah Petawis (Pun Petawis) seorang penjaga hutan. Sebagaimana diceritakan Babad Selarapang pupuh 83, “Dengan tutur kata lemah lembut menerima (kehadiran Arya Banjar) duhai pemuda, syukur sekali Bapak disinggahi, nanda suka datang kemari, walau bapak ini orang tua miskin serta kurang dalam segala ,dalam berbahasa maupun bertingkah laku, (karena) hidup miskin bersama anak saya, bekerja sebagai penjaga hutan, setiap hari meronda hutan ini agar tanaman ini terpelihara baik.”
Dari sana, Arya Sudarsana meneruskan pelariannya hingga ke Pengsing (Pena). Atas saran Demung Pena, Arya Banjar mengabdikan dirinya ke Pemban Meraja Kusuma, Raja Pejanggik.
Sebagaimana termaktub dalam pupuh 111 babad Selaparang. “Lingnya ki dukuh wewarah, dukring benjang haneng pejanggiq, sira serah sepati huripmu, maring sang Mraja Kesuma, hing Pejanggiq ratu linuih”. “Kata ki dukuh mengarahkannya, kelak pergilah ke pejanggiq, disana anda serahkan hidup matimu (baktimu) kepada sang Raja Mraja Kesuma, raja yang berkuasa di sana.”
Usai mendapat pencerahan, Arya Sudarsana akhirnya menghadap raja pejanggik, sebagaimana tertulis dalam Pupuh 115 Babad Selaparang. “Haduh Gusti, kula hiki wong kasiyani, kasore perang tanpa dosa, kula hiki saking Desa Perigi, haran Sudarsana”. “Duhai Gusti (raja), hamba ini sedang sengsara, kalah diperangi tanpa bersalah, hamba berasal dari Perigi bernama Sudarsana.” (Bersambung)














